• slide 1

    Dedi Padiku 1

    Foto ini saat pertamakalinya saya tampil di depan umum....

  • slide 2

    Dedi Padiku 2

    Foto ini saat pertamakalinya saya tampil di depan umum....

  • slide 3

    Dedi Padiku 3

    Foto ini saat pertamakalinya saya tampil di depan umum....

  • slide 4

    Dedi Padiku 4

    Foto ini saat pertamakalinya saya tampil di depan umum....

  • slide 5

    Dedi Padiku 5

    Foto ini saat pertamakalinya saya tampil di depan umum....

  • slide 6

    Dedi Padiku 6

    Foto ini saat pertamakalinya saya tampil di depan umum....

  • slide nav 1

    Dedi Padiku 1

    Foto ini saat pertamakalinya saya tampil di depan umum ...
  • slide nav 2

    Dedi Padiku 2

    Foto ini saat pertamakalinya saya tampil di depan umum ...
  • slide nav 3

    Dedi Padiku 3

    Foto ini saat pertamakalinya saya tampil di depan umum ...
  • slide nav 4

    Dedi Padiku 4

    Foto ini saat pertamakalinya saya tampil di depan umum ...
  • slide nav 5

    Dedi Padiku 5

    Foto ini saat pertamakalinya saya tampil di depan umum ...
  • slide nav 6

    Dedi Padiku 6

    Foto ini saat pertamakalinya saya tampil di depan umum ...
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

0 Obsesi Kompulsif

hai semua selamat tahun baru 2010 ya. tak terasa sudah dua tahun aku di jakarta, yahhh...... seperti biasanya tak ada perubahan yang berarti, terkadang aku mulai merasa tak berdaya, jenuh dan pasrah.  tak sedikit orang yang menertawakn aku, jika kuceritakan tentang mimpi dan cita-citaku.memang kadang untuk berhasil kita harus membuktikan kepada mereka bahwa tak selamanya pandangan mereka salah terhadap kita.

aku sering memperhatikan remaja2 jakarta yang seharian mengamen, membanting tulang, para pengemis berhamburan hampir di setiap sudut lampu merah. dan itu semakin mempengaruhiku untuk menilai situasi secara realistis.

namun sesungguhnya sikap realistis sangat berbahaya. seakan membawa kita menjadi pesimis yang akan menghambat harapan kita. sekarang setiap kali suwanda menelponku dari bali, untuk mengingatkan kembali tentang tujuan utama kita kejakarta, aku hanya terpaku diam seribu bahasa. menghitung hari yang tak pernah berhenti untuk bekerja dan menabung.

aku paham bahwa tabunganku itu tak akan cukup untuk mewujutkan mimpiku. bagiku harapan itu seperti seperti pungguk merindukan bulan, seperti kodok yang ingin dicium sang putri agar berubah menjadi seorang pangeran.

mimpi-mimpi itu hanyalah muslihat untuk menipu tubuh yang kelelahan agar tetap semangat membanting tulang. aku tak lebih dari seorang yang menggadaikan seluruh kesenangan masa muda pada kehidupan jakarta yang keras. hidup tanpa pilihan dan terombang-ambing kesana-kemari, yang pada akhirnya lambat laun akan berakhir dan mati tanpa menjadi siap-siapa.

seperti kata orang  ceritakan mimpimu dan tuhan akan tertawa.

kini aku telah menjadi orang yang paling pesimis.
Read more

2 Bab 20: persaingan berakhir

naskah mengejar mimpi bab: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Iton semakin berambisi untuk mendapakan iyen. Setiap harinya ia selalu berkunjung kekantin tempat iyen makan. Dan sutradaranya tentu saja tak lain adalah alun yang memang sejak dulu menginginkan mereka berdua jadian. Sebaliknya aku semakin berusaha menghindari iyen. Saat tak sengaja bertemu dengannya diselasar kelas aku langsung mencari alasan untuk menghindarinya. Namun pada saat istirahat sekolah ketika aku berada ditempat yang sering aku kunjungi yaitu belakang sekolah, iyen menyergapku dengan putus asa.
”baiklah jika kau menginginkan aku menerima iton sebagai pacarku, aku akan melakukannya. Tapi semoga saja kau tidak akan menyesal dengan keputusanku ini”. Kata iyen dengan suara berap-api. Setelah mengatakan itu iyen pergi meninggalkanku, ada kilatan kemarahan yang tersirat dari wajahnya. Semacam keputusan yang terpaksa dilakukan. Tapi aku merasakan ada sebagian hatiku menginginkan itu. Namun bagian lainnya tak mengharapkan itu terjadi.


Aku tahu iyen tidak akan pernah main-main dengan kata-katanya. Dan benar saja beberapa hari kemudian sekolah menjadi gempar. Persaingan untuk mendapatkan iyen berhenti seketika. Iyen telah menetapkan pilihan hatinya. Para pesaing lainnya langsung ciut nyalinya ketika melihat iton dan iyen bergandengan tangan setiap harinya menuju kantin sekolah. Sedangkan aku yang menyaksikan kejadian itu, merasakan ada sesuatu perasaan cemburu didalam hatiku. Aku tak bisa menghindari perasaan itu. Dan setiap harinya iton selalu memaksaku untuk makan bersama mereka dikantin sekolah.
Didepanku iyen dan iton mengumbar kemesraan. Jujur saja aku hanyalah manusia biasa yang mempunyai perasaan. Aku berusaha menguatkan hatiku. Meskipun sekuat apapun aku berusaha, tetap saja hatiku merasakan sakit saat melihat didepan mataku sendiri iyen dengan sengaja memeluk iton. Dan aku tahu iyen mengetahui itu. Karena ia sering melayangkan pandangan kearahku seolah mengatakan ”maaf, aku tak bermaksut menyakitimu, kau yang telah memutuskan ini semua”. Mungkin demikian arti pandangan iyen.
Setiap kali berada didekat mereka, ada semacam perasaan sakit yang diam-diam menyelinap masuk kedalam hatiku. Iton memperhatikan aku.
”dedi ada apa denganmu, kau sakit”. Tanya iton. Aku hanya menggeleng pedih. Aku sadar, aku tak bisa lama berada bersama mereka.
”iton maaf, aku harus kekamar kecil dulu”. Alasanku kepada mereka. Iyen terus memandangku dan itu semakin membuat hatiku perih.
Aku kembali menuju ketempat biasa, tempat yang pernah membuat aku merasakan cinta yang begitu indah. Namun kini cinta yang begitu indah itu pergi meninggalkan aku sendirian. Dibelakang sekolah ini aku terpaku, dadakku sesak menanggung perasaan sakit tak tertahankan. Aku merasakan ada sesuatu yang telah hilang dalam kehidupanku, yang diam-diam perasaan itu berubah menjadi kehampaan yang semakin menguasai ruang didalam hatiku. Ingin sekali aku menumpahkan semua perasaan pedih ini, namun aku tak tahu harus pada siapa. Tak sadar aku kembali menangis. Aku telah dihianati oleh cinta yang dulu begitu indah tak terperi.
Setelah beberapa jam lamanya aku merenung, aku menemukan keputusan untuk tetap membulatkan tekatku harus bisa melupakannya. Aku mulai mempersiapkan diriku intuk menghadapi ujian akhir sekolah. Setiap harinya aku belajar dengan sungguh-sungguh. Dimanapun aku berada aku selalu membaca, saat menunggu antrian penumpang dijalur aku terus membaca. Saat dirumah, waktu stirahat sekolah, dan setiap ada kesempatan aku terus membaca.
Namun disaat aku perlahan-lahan sudah mulai melupakan iyen, godaan kembali menerjangku. Awalnya saat aku untuk terakhir kalinya mengambil penumpang pada jam sepuluh malam, aku tak mengetahui saat itulah iyen naik kedalam mobilku. Aku tak menduga sama sekali jika seorang penumpang yang duduk di kursi paling belakang itu adalah wanita yang pernah membuat aku merasa menjadi laki-laki sejati, yang pernah membuat aku menjadi sangat berarti. Dan pernah juga membuat hatiku jungkir balik menanggung cinta yang begitu indah memukau.


dedi padiku | foto | video | blog mengejar mimpi | blog facebook | profil facebook | facegor.
Read more

0 Bab 19: pembuktian

naskah mengejar mimpi bab: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Tak terasa sudah seminggu aku berada dibonepantai desa molotabu. Aku sering ikut bersama miman turun kelaut untuk menangkap ikan. Aku bahagia akan kehidupan baruku, merasa telah menjadi pribadi yang lain. Namun disore yang indah ketika aku berada dibawah pohon ketapang yang rindang menghadap kelaut, aku terkejut dengan kedatangan kedua sahabatku suanda dan iwan. Mereka berdua memandangku kejam, suara iwan berdesingan ditelingaku. Ada kilatan kekecewaan dari wajah mereka.
”mengapa kau menjadi lemah begini sahabatku, kemana semangatmu yang dulu, kemana rasa optimismu yang kau ucapkan dulu, kemana mimpi-mimpimu yang akan menjadi penulis terkenal, akan merantau kejakarta dan akan menjadi orang yang paling sukses disana, dimana semua cita-citamu itu, yang ingin menjadi pembalab satu-satunya yang akan mewakili indonesia keajang balab dunia formula satu. Kemana semua itu sahabatku, mengapa kau berhenti bercita-cita”. Iwan berteriak lantang didepanku. Suaranya bergetar penuh dengan kekecewaan. Aku tahu aku telah mengecewakan mereka. Kini aku hanya bisa menunduk, terpaku merenungi kata-katanya.


”tahukah kau kawanku, jika engkau menjadi suskses nanti, kau akan masuk televisi. Bukankah ibumu dulu sangat menginginkan itu kawanku. Ketika melihatmu ditelevisi ia akan merasa bangga akan dirimu sahabatku”. Lanjut iwan lagi dengan mata berkaca-kaca.
Demi mendengar itu aku jadi teringat ketika kecil dulu, ibuku sangat menginginkan aku menjadi orang terkenal dan akan masuk televisi. Mengingat itu tak sadar pipiku basah oleh air mata. Aku akan mencari ibuku, aku harus bisa menjadi orang sukses.
”dedi….setiap aku melihatmu memakai seragam sekolah, aku merasakan pedih karena tak bisa melanjutkan sekolahku. Namun aku tetap berbesar hati karena setidaknya aku bahagia masih bisa melihatmu melanjutkan sekolah. Tapi kini kau yang mempunyai kesempatan untuk sekolah, malah kau sia-siakan”. Suara iwan berat, air matanya menetes perlahan. Aku merasa terpukul mendengar itu. aku teringat ketika iwan terpaksa putus sekolah, karena harus bekerja menanggung beban menghidupi keluarganya.
”dedi, ini surat dari sekolahmu, mereka akan mengeluarkanmu jika dalam minggu ini kau tidak segera masuk”. Kata iwan pelan. Aku menerima beberapa surat yang semuanya dari sekolahku. Setelah menyerahkan surat itu suanda dan iwan langsung pergi meninggalkan aku tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Aku terus memandang punggung mereka berdua. Betapa banyak pengorbanan yang mereka lakukan untukku, tapi aku telah mengecewakan mereka berdua. Pada saat itu aku langsung menyadari betapa banyak peristiwa berat yang telah aku lewati bersama kedua sahabatku itu. aku harus kembali berjuang mati-matian untuk terus mengejar mimpi-mimpiku, aku pasti bisa. Kini aku mulai berlari mengejar suanda dan iwan yang sedang menghentikan mobil angkot. Aku terus berlari mengejar mobil yang mulai melaju. disamping mobil angkot aku berusaha untuk menghentikannya. Suanda dan iwan terkejut melihatku dan langsung berteriak menghentikan mobil.
”kawan bolehkah aku ikut dengan kalian”. Kataku tersengal-sengal mulai kehabisan nafas. Suanda dan iwan tersenyum haru. Kami berpelukan tanpa peduli dengan orang-orang yang memandang heran kepada kami. Betapa aku menyayangi kedua sahabatku ini.

OOO

Senin pagi aku sengaja berangkat kesekolah lebih awal. Aku tidak menunggu iton menjemputku lagi. Saat aku memasuki sekolah sebagian siswa memandangku. Aku tak menghiraukan mereka dan terus berjalan kebelakang sekolah. Sudah lama aku tidak mengunjungi tempat ini. Dua puluh menit lagi upacara akan dimulai. Belum beberapa menit berada ditempat itu, aku dikejutkan dengan kedatangan iyen. Disampingnya aku tak merasakan apapun seperti perasaan yang aku rasakan dulu saat bersamanya. Kami berdua diam tak bersuara. Sesekali ia memandangku, sebaliknya tak sedikitpun aku meliriknya.
Akhirnya iyen memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.
”dedi...aku sudah tahu semuanya, ternyata iton selama ini menyukaiku, dan yang aku sesalkan alun berambisi sekali menjodohkan aku dengannya. Kata iyen dengan suara sedih. Aku tak menanggapi kata-katanya.
”dan kau satu-satunya pria yang aku anggap dapat menghiburku, disaat aku membutuhkan seseorang yang mengerti aku, kau malah menjauh dariku. Apa kesalahanku dedi, tolong katakan. Selama ini aku telah menganggap kau orang yang satu-satunya paling mengerti aku. Sejak bersamamu aku merasa selalu bahagia, sebelumnya banyak teman-temanku yang ingin bersamaku, tapi setelah aku ketahui ternyata mereka hanya memamfaakan aku, mereka hanya ingin uangku saja. Namun sejak kehadiranmu aku telah menemukan satu bentuk persahabatan yang tidak pernah aku dapatkan dari orang lain”. Lanjut iyen sambil menangis tersedu-sedu.
Aku berusaha menguatkan hatiku agar tidak larut dalam kesedihannya. Aku harus bisa membuang perasaan yang ingin selalu melindunginya. Meskipun aku tahu itu tak mudah. Iyen masih memandangku dengan berlinangan air mata.
”dedi. Perlu kau ketahui, jujur saja setiap harinya aku selalu ingin bertemu denganmu di belakang sekolah ini, aku juga tak tahu kenapa aku menginginkannya. Yang aku tahu aku tidak bisa menahan perasaan yang selalu ingin bersamamu di tempat ini. Dan selama beberapa minggu ini, setiap harinya aku selalu cemas menunggu kedatanganmu. Dan apakah Cuma karena iton menyukaiku kau menjauh dariku. Katakan dedi, tolong jawab pertanyaanku, mengapa kau begitu tega menyakitiku. Kau jahat sekali dedi”. Kini iyen menangis sejadi-jadinya memohon kepadaku. Aku paling tak tahan melihat wanita mengangis.
”iyen aku mohon, tolong jangan paksa aku untuk menghianati temanku sendiri, iton orangnya baik, dan aku rasa ia sangat cocok untukmu, kau akan merasa bahagai jika bersamanya. Dan sekarang aku akan berusaha untuk menjadi lulusn terbaik sekolah ini, setelah lulus sekolah ini aku akan ikut test seleksi magang ke jepang, jika aku gagal aku akan merantau ke jakarta. Jadi aku mohon kau jangan menemuiku, aku tidak ingin iton berprasangka lain terhadap kita. Iton tidak pernah tahu tentang kejadian kita dulu. Lupakan semuanya, anggaplah kita tidak pernah bertemu. Aku sangat berharap kau bisa menerima iton menjadi pacarmu”. Setelah mengatakan itu aku meninggalkan iyen yang masih menangis. Bel tanda upacara berbunyi.
Diantara murid yang berjalan ketempat upacara, aku tidak melihat iyen. Saat upacara dimulai aku tidak melihatnya dibarisan teman-temanya. Ada sedikit perasaan cemas didalam hatiku. Inginnya aku kembali kebelakang sekolah untuk melihatnya. Seseorang sedang menarik-narik kemejaku dari belakang. Aku berpaling, iton tersenyum kearahku.
”selamat datang kembali sahabatku” kata iton tersenyum hangat. Senyumnya masih riang seperti dulu saat pertama kalinya aku mengenalnya. Ia kelihatan sangat senang melihatku kembali kesekolah ini. Namun saat berbicara denganku iton selalu melirik kearah barisan teman-teman iyen. Aku tahu ia sedang cemas tidak melihat iyen. Alun menghampiri iton untuk menanyakan iyen.
”aku belum melihatnya”. Jawab iton cemas
”tadi pagi iyen bersamaku, sebelum upacara ia mengatakan kepadaku ingin ke toilet. Tapi sampai sekarang belum juga kembali”. Kata alun. Aku diam berpura-pura tidak mendengar mereka. Karena aku tahu iyen sedang berada di belakang sekolah. Dan aku juga tidak ingin mereka tahu kalau iyen bersamaku tadi.
Sampai selesai upacara iyen tak juga muncul. Kepala sekolah menyuruh siswa agar jangan membubarkan barisan. Namun disaat aku cemas memikirkan iyen aku terkejut dengan suara pak tasman kepala jurusan mesin. Jurusan yang aku ambil, memanggil namaku.
”saudara mohamad febri padiku tolong maju kedepan”. Suara pak tasman menggema dari pengeras suara. Aku gugup jantungku berdetak satu persatu. Aku ketakutan maju kedepan. Ribuan siswa memperhatikan aku. tak sanggup aku melihat wajah pak gunawan wali kelasku yang juga berbaris bersama pak tasman.
”kau tahu kan kenapa kau dipanggil kedepan”. Tanya pak tasman. Aku tak menjawabnya. Pak tasman orangnya sangat disiplin ia tak segan-segan melecehkan murid yang bodoh. Dan aku tahu hari ini ia akan mempermalukan aku didepan semua siswa. Dan cara yang paling sering ia lakukan adalah dengan memberikan pertanyaan yang sulit dijawab murid tersebut. Dan jika murid itu tak bisa menjawabnya. Maka ia dengan sangat senang hati akan melecehkan murid itu sehingga murid itu tak tahan ingin keluar dari sekolah ini.
”baiklah aku akan memperkenalkan kau kepada murid-murid lain. Orang yang berdiri didepan ini adalah murid yang sudah berminggu-minggu tidak masuk sekolah. Mungkin ia menganggap dirinya pintar sehingga menganggap enteng jika tidak mengikuti ulangan harian. Dan seperti yang kalian ketahui ujian akhir sekolah tinggal beberapa bulan lagi. Untuk mengikuti itu syaratnya harus mendapat nilai rata-rata baik setiap ulangan harian. Tapi karena orang ini tidak mengikuti ulangan harian maka bisa di pastikan ia tidak akan bisa mengikuti ujian akhir semester dan ujian akhir nasional”. Kata pak tasman menjelaskan kepada ribuan murid yang masih bebaris rapi.
mendengar aku tidak bisa mengikuti uas dan uan, aku membela diri agar bisa mengikuti ulangan susulan.
”maaf pak, bukankah seperti yang dulu-dulu jika ada yang tidak mengikuti ualangan harian akan diberikan ulangan susulan, sehingga murid itu mendapatkan kesempatan mendapat nilai yang menjadi syarat mengikuti uas dan uan”. Mendengar itu pak tasman menyeringai seperti telah mendapatkan kesempatan untuk menghinaku.
”oh............. jadi kau ingin meminta ulangan susulan. Percuma saja, sedangkan orang yang setiap harinya masuk mengikuti pelajaran, kesulitan juga menjawabnya, apalagi kau yang tidak pernah masuk sama sekali”. Pak tasman mengatakan itu tidak secara langsung meremehkan kamampuanku. Baiklah nanti pak tasman tahu sendiri bahwa aku tidak sebodoh dugaannya.
”maaf, bapak jangan langsung meremehkan kemampuan orang sebelum membuktikannya, sekarang ini juga saya siap menjawab secara lisan pertanyaan bapak tetang pelajaran dari kelas satu sampai pelajaran yang terahir diberikan sejak saya kelas tiga”. Pak tasman tersentak mendengar tantanganku. Ia merasa aku telah berani melawannya. Sedangkan para murid lain yang mendengarnya sontak terbelalak, mereka memandang aku penuh pelecehan. Mungkin mereka menyangka aku tak berani mengambil resiko dengan menjelaskan secara lisan pelajaran jurusanku yang rumit. Tetang cara kerja mesin bersama rumus-rumusnya. Tapi bukannya aku sombong, aku sangat menguasai pelajaran jurusanku. Aku merasa pelajaran itu sangatlah gampang. sampai-sampai pak toibin guru yang sangat disegani kepintarannya tetang pelajaran itu mengakui kemampuanku disalah satu pelajaran yang cukup membuat orang kebingungan menjelaskannya yaitu pelejaran menganalisa kerusakan dalam satu sistem kesatuan perangkat mesin. Kenapa aku mengatakan pelajaran itu membingungkan. Karena kita Cuma dengan melihat keadaan suatu mesin harus dapat mengetahui dengan pasti kerusakan apa yang terjadi. Kebanyaka dalam hal ini orang hanya menggunakan ilmu menduga-duga. Sehingga pada saat komponen yang diduga rusak itu diganti, ternyata penyebab keruskan bukan komponen itu. Ia telah salah menemukan komponen yang rusak. Dan jika itu yang terjadi berarti kita sia-sia memperbaiki mesin itu. Karena kita tidak dapat menemukan penyebab kerusakan. Dan orang yang bisa menebak kerusakan dengan sangat tepat, adalah orang yang telah mengusai cara kerja mesin itu sendiri. Bagaimana mungkin kita bisa mengetahui satu kerusakan sedangkan fungsi dan cara kerja masing-masing komponen mesin itu tidak diketahui.
”oh .................. ternyata anak ini sombong juga. Baiklah jika kau mengingingkan itu. Aku hanya perlu menanyakan satu pertanyaan yaitu tolong jelaskan cara kerja sistem pengapian yang terjadi didalam mesin mobil empat langkah”. Kat pak tasman. Semua murid tegang melihatku. Dan yang paling gelisah saat itu adalah iyen, yang entah kapan telah berada ditempat itu.
Pak toibin yang selama ini mengetahui kemampuanku tersenyum memandangku. Mungkin ia merasa sangat bangga telah mengajar aku jika aku berhasil menjawab pertanyaan pak tasman itu. Sedangkan pak gunawan wali kelasku yang sempat menwarkan aku untuk tinggal dirumahnya karena mengetahui keadaanku, memalingkan wajahnya ketempat lain. Aku tahu ia berharap sekali agar aku bisa menjawab pertanyaan itu. Baiklah aku harus membuktikan diriku. Aku harus memulainya sekarang, aku harus lulus dengan nilai terbaik agar bisa mengikuti tes seleksi magang kejepang yang akan diadakan setelah pelulusan sekolah.
Sebelum menjawab pertanyaan aku sempat melirik iyen. Kulihat iyen membekapkan tangannya didepan dadanya seperti sangat berharap agar aku selamat dari cobaan ini. Kulirik pak tasman yang kelihatan tidak yakin dengan kemampuanku.
”pak boleh saya minta disediakan papan tulis bersama kapur tulis agar bisa menjelaskan bersama dengan skemanya”. Pintaku kepada pak tasman. Ia semakin terkejut dengan perkataanku. Mungkin ia mengira aku Cuma menguasai secara lisan tapi tidak mampu menggambar skemanya beserta simbol-simbol komponen-komponen mesin yang jarang dikuasai murid lainnya.
Dua orang penjaga sekolah membawa papan tulis dan diletakan menghadap kebarisan para siswa. Semua tegang menanti aku beraksi. Sebenarnya pertanyaan pak tasman termasuk pertanyaan yang aku anggap sangat mudah. Maka hari ini akan aku buat mereka terperangah. Aku akan menjelaskan bukan Cuma sistem pengapian, tapi juga semua komponen mesin yang bekerja saat mesin mobil dihidupkan. Itu berarti ada beberapa sistem yang akan aku jelaskan yaitu sistem pengapian, sistem starter, sistem pelumasan, sistem kelistrikan, dan semua sistem yang berkaitan dengan mesin mobil yang disebut sistem kerja mesin.
Lewat mikrofon aku mulai menjelaskan saat awal menghidupkan mesin yaitu ketika kita memutar kunci kontak dari posisi off keposisi acc. Pada kejadian ini listrik dari positif baterai mengalir kekunci kontak dan diteruskan kesemua sistem acecoris mobil, seperti tape, monitor dan sebagainya. Dan apabila kunci kontak diputar sekali keposisi on, maka listrik mengalir kesistem pengapian. Dan akupun menjelaskan dengan sangat terperinci cara kerja sistem pengapian bersama dengan simbol-simbolnya dengan gaya yang sangat meyakinkan. Sampai disini sistem starter dan sistem pelumasan belum bekerja. Aku menghentikan sedikit penjelasan untuk melirik kesekelilingku. Semua terdiam seakan telah tersihir oleh keindahan sistem cara kerja mesin yang menurut sebagian orang sangatlah rumit. Tapi bagi aku ini adalah hal yang sangat menyenangkan, karena setidaknya aku bisa mengubah pandangan pak tasman yang selama ini menganggapku tidak mengetahui sedikitpun tentang pelajaran jurusanku.
Setelah mengamati mereka, aku kembali berkosentrasi menjelaskan sistem starter yang akan berpungsi setelah kunci kontak diputar sekali keposisi starter. Sistem starter berfungsi hanya sebagai pemutar awal untuk menghidupkan mesin. Setelah mesin hidup, dengan sendirinya sistem starter akan menghentikan tugasnya dengan satu sitem pengatur yang disebut swit solenoit. Akupun tak lupa menjelaskan proses kerja swit itu. Disekelilingku suasana masih hening, semua memandangku takjub. Aku tahu saat ini iyen sedang memperhatikan aku dengan sedikit perasaan lega. Akupun semakin berwibawa didepan majelis yang mempertaruhkan harga diriku ini.
Kemudian aku kembali menjelaskan kejadian yang terjadi bersamaan ketika mesin sudah dihidupkan. Saat mesin hidup, berarti sistem pengapian sudah menjalankan tugasnya bersamaan dengan sistem pelumasaan yang melumasi onderdil-onderdil didalam mesin.
Sampai disini aku telah menjelaskan dengan sangat terperinci berbagai kejadian yang menyebabkan suatu mesin bisa sampai dihidupkan. Aku mengamati sekema yang aku gambar dipapan tulis, dan aku hampir tak percaya ternyata tanpa aku sadari aku telah membuat satu rangkaian yang saling terhubung begitu sempurna tak bedanya dengan apa yang sering di ajarkan oleh para guru kepadaku. Namun disini aku telah membuat satu nilai tambah dengan satu pembahasan dari beberapa sistem yang di ajarkan terpisah oleh pera guru kepada kami. Dan tentu saja pak tasman sangat terkejut dengan ini semua.
Didepanku pak tasman masih terperangah menyaksikan aku yang dengan mudah saja menjelaskan semua sistem pada mesin dengan sangat jelas bersama dengan skema dan simbol-simbol komponen mesin. Ia seperti tak menyangka kalau aku akan mampu menjelaskan dengan sangat terperinci. Kulihat pak gunawan dan pak toibin tersenyum bangga kepadaku. Sebaliknya pak tasman masih terpana diam tak berkutik. Sedangkan iton dan teman-teman sekelasku Melonjak maju menghambur kedepan dan langsung menjunjung aku keatas girang bukan main, karena aku ketua kelas mereka telah mengangkat gengsi kelas kami dimata para siswa kelas lain yang sejurusan dengan kami.


dedi padiku | foto | video | blog mengejar mimpi | blog facebook | profil facebook | facegor.
Read more

2 Bab 18: hidup baru

naskah mengejar mimpi bab: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Berhari-hari aku tidak keluar kamar hanya terbaring hampa kehilangan seluruh semangatku. Semua warga yang masih menganggap aku sinuhun ilmu sakti mandraguna, bergantian menjengukku, dengan membawa bermacam-macam makanan. Mereka tampak segan didepanku. Dan lagi-lagi yang paling menjengkelkan adalah kedua sahabatku ini suanda dan iwan. Dengan lagaknya yang sok tahu iwan merepet terus bibirnya.
”sudah pernah kukatakan padamu kawan, jika bukan orang yang terpilih memegang mustika itu, akan mengakibatkan mudorot”. Kata iwan dengan sangat bijaksana. Lagi-lagi tentang mustika itu, mereka tetap mengira aku memiliki mustika. Dasar orang-orang sinting. Pikirannya telah dirasuki setan mustika.
”lihatlah dirimu sekarang telah menerima akibatnya, makanya serahkan saja mustika itu kepada yang berhak memakainya”. Saran iwan mengesankan kalau ialah orang yang terpilih untuk memegang mustika yang tidak pernah ada itu. aku berusaha tak mempedulikan ocehannya. Namun tetap saja mendengar ocehannya ingin sekali aku memukul kepalanya dengan gelas yang berada disampingku.


Selain warga desa iton juga setiap harinya datang menjengukku dengan membawa berbagai macam buah-buahan dan minuman kesehatan. Iton juga terus memaksaku untuk pergi berobat kedokter. Padahal sebenarnya aku tidak sakit seperti yang mereka duga. Dan pada suatu malam aku tak pernah menyangka kalau iton datang bersama iyen dan alun. Aku tak sempat menghindar ketika mereka masuk kedalam kamarku. Perasaanku tak karuan ketika iyen memandangku dengan penuh rasa haru. Aku tak sedikitpun meliriknya dan berpura-pura berbicara serius dengan iton.
Disamping iton iyen terus memandangku tak berkedip. Ada guratan kesedihan yang begitu dalam di wajahnya. Alun yang mengetahui hal itu berusaha mengalihkan perhatian iyen. Aku tahu alun tak ingin iyen terus melihatku. Batinku meronta tak tahan melihat kenyataan ini. Rupanya alun berusaha keras agar aku tak lagi mendekati iyen. Biarlah aku juga menginginkan itu terjadi. Aku ingin melihat sahabatku iton bahagia. Dan aku tahu betapa berartinya iyen dimata iton.
Alun terus menarik tangan iyen ketika pamit untuk pulang. Iyen terpaku menatapku seperti tak ingin meninggalkan aku. Ia terus memandangku: dedi apa yang telah terjadi denganmu, mengapa kau jadi seperti ini. Mana semangat dan ketegaranmu yang selama ini aku kagumi dari dirimu. Mungkin demikian arti pandangan iyen. Sedangkan aku tak kuasa untuk tidak manatapnya. Kami seakan larut dalam bahasa hati yang hanya kami berdua yang memahaminya. Tiba-tiba aku teringat akan janjiku untuk bisa melupakannya, maka cepat-cepat aku palingkan wajahku meskipun hatiku tak ingin melakukannya. Aku masih sempat melihat iyen memandangku ketika ia akan melangkah keluar meninggalkan kamarku.
Setelah kepergian mereka, aku dilanda perasaan sepi tak tertahankan, yang pelan-pelan menyelimuti kamarku yang senyap, kemudian merambat kedalam relung hatiku yang paling dalam. Saat itu juga batinku bergejolak, hatiku tak ingin menerima kepergiannya. Namun ada sebagian hatiku berharap untuk melupakannya untuk selamanya. Ya…..untuk selamanya. Aku harus melupakannya, ia bukan miliku dan tidak akan pernah menjadi milikku. Biarlah iyen akan menjadi bagian yang akan mengisi kenangan terindah dalam setiap desahan nafasku, setiap aliran darahku, dan suatu saat nanti yang entah kapan, akan kuceritakan kepada dunia bahwa aku pernah merasakan cinta yang begita indah tak terperi.
Dikamar ini setelah merenungi nasibku, aku menemukan satu cara agar bisa melupakannya yaitu, aku akan berhenti sekolah agar tidak akan bertemu dengannya lagi untuk selamanya. Keesokan harinya aku berangkat pergi ke bonepantai yaitu suatu daerah yang berada di pesisir pantai. Disana ada sepupuku laki-laki yang telah menikah dengan penduduk sana dan manjadi nelayan. Tidak seorangpun yang tahu kemana aku pergi. Termasuk kedua sahabatku suanda dan iwan.
Didalam mobil yang membawaku menuju bonepantai, aku terus terbayang akan semua kejadian bersama iyen. Entah mengapa kenangan itu terus menerus hadir didepan mataku. Semakin aku berusaha keras melupakannya, semakin kuat pula ia hadir. Jalan yang berliku-liku diantara tebing yang terjal menjulur kelaut, semakin menambah nuansa indah bersama hadirnya bayangan iyen dimataku.
Dari balik jendela aku melihat deburan ombak yang saling mengejar, sinar matahari berkilauan menari-nari diatas ombak yang seolah akan menerjang mobil yang aku tumpangi. Kubuka kaca jendela agar lebih bisa menikmati gemuruh ombak, bau air laut menyeruak masuk bersama angin kencang yang menerpa wajahku. Aku merasakan damai yang begitu indah, kesejukan seakan mengantar aku menerobos sudut-sudut kehidupan yang tak pernah aku dapatkan, seolah membawa aku menuju dunia lain yang tak pernah aku jumpai.
Jejeran panjang pohon-pohon kelapa disepanjang jalan yang menjulur kelaut, memutus pantulan sinar matahari diatas air laut yang menyilaukan. Aku larut dalam nuansa yang sangat menakjubkan, seakan aku telah menemukan duniaku sendiri untuk memulai lembaran baru, menyongsong kehidupan yang mungkin saja akan membuat aku lupa akan masa laluku.
Aku turun dari mobil, berdiri didepan lapangan luas desa molotabu. Dipinggir lapangan yang berada didepanku nampak sebuah rumah tua yang luas dan tertata rapi. Diterasnya yang cukup luas seorang anak perempuan saling kejar-kejaran. Saat aku mendekati rumah itu anak perempuan tadi berlari menyongsongku.
”ihhh….kadedi, horeee….kadedi datang”. Mila berlari kearahku, aku membungkukkan badan siap untuk memeluknya. Dalam pelukanku ia tertawa riang penuh kegembiraan. Seumur mila inilah adikku debi berpisah denganku dulu.
Saat mendekapnya aku merasakan seolah sedang memeluk adikku.
”bapak dimana”. Tanyaku mengimbangi semangatnya. Mila masih tersenyum-senyum, wajahnya berseri-seri. Dan matanya berkilat-kilat memancarkan sikap lugu, polos, dan penuh dengan semangat.
”bapak dibelakang sedang memperbaiki jala untuk menangkap ikan, katanya mila tidak bisa mengganggunya, karena kalau jala itu tidak diperbaikki, kata bapak, mila tidak bisa dibelikan mainan lagi”. Jawabnya polos. Mila semakin cerewet, tahun lalu cara bicaranya tidak selancar ini. Dan ia juga sudah bertambah tinggi.
Setelah menurunkan mila aku menyergapnya ketika sedang serius memperbaiki jala di belakang rumah.
”heiiii….tumben datang, bagaimana keadaanmu”. Tanya miman. Sepupuku inilah yang mengajari aku mengemudikan mobil ketika aku masih kelas enam SD. Dan miman jugalah yang selalu menguatkan mentalku ketika takut untuk mengemudikan mobil dijalan pegunungan yang sempit. Namun setelah miman bertahun-tahun menjadi sopir angkot, ia memutuskan untuk menikah dan menetap disini dengan menjadi nelayan.
”aku baik-baik saja”. Jawabku. Kulihat miman seakan ingin menyerbuku dengan berbagai pertanyaan. Dan tak sadar dari mulutnya keluar pertanyaan yang sejak dari dulu ia buang jauh-jauh yaitu menanyakan kabar kedua orang tuaku dan kedua adikku. Ia tahu tentang perasaanku jika mendengar nama-nama itu disebut.
Miman nampak sangat menyesal telah menanyakan itu dan berusaha mengalihkan perhatianku.
”oh…aku lupa kau masih capek sehabis perjalanan, istrahat dulu dikamar depan, tapi kalau mau makan dulu biar aku temani”. Saran miman. Aku menolak semuanya karena aku tak sabar lagi ingin menikmati pantai. Aku ingin mengubur semua masalaluku dipantai itu, menumpahkan semua perasaanku didepan deburan ombak yang bergemuruh seakan menyambutku untuk memulai hidup baru, membuka lembaran-lembaran yang akan mengantar aku kesuatu peristiwa yang mungkin saja akan membuatku lupa akan semua kenangan bersama iyen.
Dibawah pohon ketapang yang meneduhiku, aku terpaku memandang jauh ketengah laut. Aku diam menikmati suara angin yang berdesis ditelingaku. Aku membaringkan tubuhku diujung perahu menghadap kelaut. Tak terasa aku telah tertidur terbuai akan keindahan alam. Aku membawa bayangan iyen kedalam mimpiku hingga kealam bawah sadarku.


dedi padiku | foto | video | blog mengejar mimpi | blog facebook | profil facebook | facegor.
Read more

0 Bab 17: pertengkaran

naskah mengejar mimpi bab: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Diluar kamar aku mendengar mami aco mempersilahkan iton agar masuk saja kedalam kamarku. Aku ingat seperti biasa iton selalu menjemputku pergi kesekolah. Aku menyuruh iton agar menungguku sebentar untuk mandi. Iton mengangguk tersenyum-senyum. Pagi ini wajahnya lain dari pada yang lain. Ia tersenyum berseri-seri. Aku sempat heran melihatnya. Tapi biarlah toh sebentar lagi ia pasti akan menceritakannya kepadaku.
Selesai mandi aku bergegas memakai seragam sekolah. Didalam kamar aku tak mempedulikan suanda dan iwan memperhatikan aku. Mereka pasti tetap penasaran dengan mustika yang mereka anggap ada padaku. Aku tergesa-gesa keluar dari dalam kamar. Iton masih tetap tersenyum-senyum sendiri menungguku diluar. Kami berdua keluar rumah menuju mobilnya yang diparkir didepan lorong rumahku.
Iton menyerahkan kunci mobilnya, itu berarti kali ini aku yang bertugas menyetir mobil. Perlahan-lahan mobil meninggalkan kampungku. Kulihat iton semakin tak sabar ingin menceritakan sesuatu.


”dedi, kau tahu tidak kenapa aku begitu bahagia hari ini”. Tanya iton kepadaku. Aku hanya menggelengkan kepala karena malas bersuara. Kepalaku masih terasa pening akibat minuman yang dibawa suanda dan iwan semalam. Disampingku iton seperti orang kebelet pipis tak sabar ingin melanjutkan ceritanya.
”karena aku telah jatuh cinta, baru kali ini aku merasakan tertarik dengan seorang wanita”. Lanjut iton berbinar-binar. Aku baru tahu hatinya sedang berbunga-bunga. Dan aku juga pernah merasakan perasaan semacam itu sejak pertama bertemu dengan iyen, Semua terasa indah.
Tapi siapa wanita yang telah membuat iton orang yang tak pernah peduli dengan seorang wanita tiba-tiba memujanya begitu. Jika melihat iton yang tampan dan kaya pastilah wanita itu sangatlah cantik dan kaya juga seperti dirinya.
”dedi, semalam aku menelponnya, tapi ia tak tahu kalau aku yang menelponnya. Karena diam-diam sejak dari dulu aku berusaha mendapatkan nomornya tampak sepengetahuannya”. Mendengar ucapan iton aku menjadi heran, sebenarnya tampa harus sembunyi-sembunyi begitu wanita itu pasti akan dengan senang hati memberikan nomor telponnya. Sebab siapa yang tak mau dengan iton yang tampan dan kaya. Pasti wanita itu bukanlah orang sembarangan sampai-sampai iton merasa kurang percaya diri begitu.
Aku semakin tak sabar menunggu iton mengucapkan nama wanita itu. aku memberi saran padanya.
”mengapa harus sembunyi-sembunyi, kau kan punya segalanya, mobil ada, motor ada, wajah tampan, apa lagi yang kurang kawanku. Aku yakin setelah ia tahu kalau kau yang menelponnya pasti ia akan menggelepak-gelepak atau bisa-bisa akan pingsan ditempat”. Kataku memberi semangat. Iton menarik nafas dalam-dalam menandakan kalau wanita itu tidak seperti yang aku sangka. Mengetahui itu aku semakin yakin kalau wanita itu sangatlah istimewa dihati sahabatku ini, sampai-sampai membuatnya jungkir balik menahan rasa. Kasihan sekali sahabatku ini seandainya aku bisa membantunya, aku pasti akan melakukannya dengan ikhlas tanpa mengharapkan apapun. Dan bantuanku itu belum seberapa dibanding dengan kebaikannya kepadaku selama ini.
Mobil terus melaju melewati hamparan persawahan yang semakin indah disinari matahari pagi. Sisa embun yang menempel diujung-ujung batang padi yang mulai menguning nampak berkilauan indah menambah rasa sejuk di dalam hatiku. Namun keindahan itu belum disadari iton karena hatinya gelisah memikirkan wanita yang telah merampas hatinya. Aku tak tega juga melihat sahabatku ini. Saat itu aku berjanji didalam hatiku akan menolongnya mendapatkan wanita yang telah menyiksanya siang dan malam.
Kegundahan nampak terlihat dari wajahnya. Iton terlihat seperti orang yang sedang menanggungkan rasa yang paling dalam, sehingga nampak terlihat jelas dari setiap tarikan nafas dan raut wajahnya yang kelam. Senyumnya menguap seketika mendengar aku mengucapkan kalau ia punya segalanya. Aku jadi merasa bersalah dengan kata-kataku tadi. Seandainya aku tak mengatakan itu mungkin tak akan jadi begini.
”memang aku punya semuanya, dan dengan mudah saja mendapatkan wanita manapun, tapi entah mengapa kalau dengan wanita yang satu ini, aku merasa tak berdaya sama sekali. Bayangkan saja hanya untuk mendapatkan nomornya aku harus sembunyi-sembunyi seperti pengecut. Dan jujur saja saat mendengar suaranya di telpon semalam aku tak tahu harus mengucapkan apa, aku hanya bisa diam mendengar suaranya mengatakan halo berulang-ulang sampai ia menutup telponnya”. Desah iton dengan suara bergetar. Matanya berkaca-kaca.
Aku hanya diam tak mengucapkan sepatah katapun. Aku bisa merasakan perasaan iton saat ini, perasaan yang begitu mengharu biru sampai tak sadar ia telah meneteskan air mata. Betapa ia sangat mencintai wanita itu. iton mengalami cinta pertama yang sangat memilukan.
Aku bisa membayangkan penderitaanya, dimana untuk pertama kalinya mencintai wanita, saat itulah kita akan merasakan segalanya menjadi indah, dan sebaliknya rasa yang begitu indah berbunga-bunga itu, akan semakin menyakitkan jika kita tak kunjung mendapatkannya. Dan keadaan inilah yang sedang bergejolak didalam jiwa sahabatku ini, yaitu perasaan ingin sekali memiliki wanita yang dicintainya namun karena perasaan yang ingin sekali memiliki itu yang membuat kita takut untuk mengungkapkannya, karena kita tak sanggup menerima kenyataan kalau kita tak bisa mendapatkannya. Aku harus melakukan sesuatu untuk membantu sahabatku ini.
Aku memperlambat laju mobil memasuki halaman sekolahku. Disampingku iton masih terdiam dengan mata berkaca-kaca. Iton belum menyadari kalau mobil sudah dari tadi berada diparkiran. Aku juga tak memberitahunya sebab aku tak ingin mengusiknya. Tak ada diantara kami yang mengeluarkan kata-kata. kami diam larut dalam pikiran masing-masing. Sebenarnya aku ingin sekali mengetahui siapa wanita itu, tapi kulihat iton tak berselera untuk membahasnya.
Aku memalingkan wajahku memandang jauh keluar jendela mobil. Seorang wanita yang kukenal alun sedang menuju kearahku. Mungkin saja ia hanya ingin menanyakan kabarnya iwan. Alun adalah salah satu teman iyen yang ikut menyelamatkan kami waktu hisam menghinaku diapotik dulu pada saat acara peresmian kafe pak jefri. Dan alun inilah yang berperan sebagai pacar gelapnya iwan malam itu.
”dedi boleh kita bicara sebentar”. Kata alun. Ia nampak kelihatan serius seperti ada yang sangat penting untuk dibicarakan.
”boleh memangnya ada apa, atau mungkin kau merindukan temanku itu, iwan”. Kataku menggodanya. Alun tak mempedulikan ucapanku.
”nanti kujelaskan, tapi jangan disini”. Jawab alun seperti tak sabar untuk segera menceritakan sesuatu. Tapi apa yang membuat ia tergesa-gesa begitu. Iton mengangguk lesu saat aku mengatakan akan lebih dulu masuk kedalam sekolah.
Aku berjalan mengikuti alun dari belakang menuju musolah sekolah. Sudah dapat dipastikan ini persoalan serius sampai ia mengajak kemusolah yang tak ada seorangpun pada pagi hari seperti ini. Dibelakangnya aku was-was mengantisipasi apa yang akan ia katakan nanti. Alun mengajakku duduk diteras musolah. Ia belum mengucapkan kata-kata. Disampingnya aku semakin tak sabar. Alun menatap wajahku seperti ragu dengan apa yang akan ia ucapkan. Ia kelihatan bimbang ada sesuatu yang memenuhi perasaanya.
”dedi, sebelumnya aku minta maaf jika ini akan membuatmu tersinggung”. Katanya sambil mengeluarkan nafas yang tertahan didalam dadanya. Ini menggambarkan betapa beratnya apa yang akan ia katakan nanti. Aku belum tahu apa masaalahnya. Tapi ini pastilah bukan hal yang sepele.
”aku belum tahu bagaimana memulainya untuk mengatakan kepadamu”. Lanjut alun bingung. Semoga saja berita ini tidak terlalu buruk untukku.
”katakan alun aku siap mendengarnya”. Desakku tak sabar.
”begini, inti masaalahnya adalah, antara kau dengan iyen”. Kata alun semakin membuatku tak mengerti, sebab selama ini aku dan iyen tak punya masaalah sama sekali.
”tunggu dulu, masaalahnya apa, tolong langsung saja kepokok persoalan, aku semakin tak mengerti dengan maksudmu”. Kataku tak sabar. Kali ini kulihat alun semakin berusaha untuk tidak mempedulikan perasaanku jika nanti tersinggung dengan kata-katanya.
”baiklah langsung saja, tujuanku adalah untuk mengingatkanmu agar jangan menyalaartikan kebaikan iyen padamu, karena sebenarnya selama ini iyen hanya merasa sedih dengan keadaanmu, tak lebih dari itu. iyen pernah menceritakan semua tentang keadaanmu kepadaku. Dan ia juga mengatakan hanya kasihan saja dengan nasibmu. Kau kan tahu sendiri banyak laki-laki yang mengejarnya, jadi bisa dibilang ia bisa memilih pria manapun yang lebih tampan dan kaya raya”. Alun terhenti seperti tak tega meneruskan kata-kata terakhirnya.
Mendengarnya, saat itu juga hatiku hancur, sakit tak tertahankan. Aku langsung mengerti masaalahnya. Lagi-lagi menyangkut tentang harta dan kekayaan. Tak terasa air mataku menetes. Betapa hinanya aku dimata mereka, sampai-sampai untuk sekedar berteman saja masih dianggap tak pantas. Aku mengerti tak ada yang bisa disalahkan atas semua ini. Kini mataku berlinangan air mata, aku hanya bisa menunduk berusaha menguatkan diriku. Aku tahu alun tidak secara langsung menyuruh aku untuk mengukur keadaanku, atau lebih kasarnya agar aku tahu diri. Aku masih menunduk dengan terus mengeluarkan air mata. Kata-katanya terasa sangatlah berat untukku.
”lagi pula sekarang iyen lagi didekati iton sahabatmu sendiri”. Lanjut alun. Sontak aku terkejut mendengar nama itu. kuseka air mataku dan memandang alun tak percaya. Alun seperti mengerti maksudku.
”serius, aku tak main-main, kemarin sore iton datang kerumahku hanya untuk menanyakan nomor telponnya iyen. Kulihat iton sangat berharap sekali ingin mendapatkan iyen. Dan kurasa mereka berdua sangat cocok. Kau tahu sendiri kan dimanapun orang pasti ingin mendapatkan pacar yang kaya seperti iton. Jujur saja, seandainya aku disuruh memilih antara kau dan iton, maaf bukannya bermaksud menghinamu, aku lebih memilih iton”. Lanjut alun lagi.
Aku merasakan sakit yang semakin dalam. Air mataku mengalir deras tak terbendung. Kali ini alun benar-benar tak mempedulikan lagi perasaanku. Baiklah kalian benar, saat ini aku memang tidak berarti apa-apa. Tapi lihatlah beberapa tahun kedepan, aku akan buktikan bahwa aku bisa sukses seperti yang lainnya. Janjiku dalam hati sambil terus menangis. Aku berusaha terlihat setegar mungkin didepan alun. Meskipun hatiku berteriak menahan sakit yang begitu menyiksaku.
”alun, terima kasih atas nasehatmu, aku akan menjauhi iyen untuk selamnya. Tapi aku mohon jangan pernah kau menceritakan tentang aku dan iyen kepada iton sedikitpun”. Pintaku dengan suara tersendat-sendat menahan tangis.
”ia aku janji, iton juga tak sedikitpun mengetahui tentang kalian sejak dari awal kalian saling kenal”. Jawab alun dengan terus memandangku.
Aku langsung meninggalkannya menuju tempat yang sering membuat aku merasa damai dan tentram, yang tak lain adalah lapangan sepak bola yang berada dibelakang sekolahku. Seperti biasa setiap kali aku berada dibelakang sekolah ini, burung-burung kecil selalu menyambutku dengan riang, mereka seakan menganggap aku sahabat mereka. Mungkin karena aku terlalu sering berada disini, jadi aku sudah tak asing lagi bagi burung-burung itu.
Kadang mereka terbang rendah disampingku dan langsung mendarat tak mempedulikan kehadiranku sedikitpun. Tapi kali ini mereka akan terkejut melihatku menangis dan mungkin akan bertanya-tanya mengapa tidak lagi bersama seorang putri cantik yang selalu bersamaku dibelakang sekolah ini.
Sampai bel tanda masuk sekolah berbunyi aku tak beranjak dari tempat itu. aku ingin sekali menangis sejadi-jadinya dibelakang sekolah ini. Aku teringat ketika pertama kali aku mengenal iyen ditempat ini. Teringat akan senyumnya saat menatapku, tingkah lakunya yang seakan peduli terhadapku, dan aroma parfum yang sering ia gunakan seakan tercium olehku.
Perlahan-lahan perasaan sepi menyergapku, semakin membuat aku larut dalam kesedihan yang tak tertahankan. Dan kini entah mengapa aku menyesal telah mengenalnya. Dadaku semakin sesak seiring menyeruaknya kenangan itu. bayangan ketika bersamanya perlahan-lahan semakin jelas berada didepan mataku. Yang kulihat aku sedang duduk bersamanya, tertawa riang seakan kami tidak akan terpisahkan. Namun pada detik ini aku harus bisa melupakannya untuk selamanya. Aku harus melakukan itu. karena aku sadar ia tidak akan pernah menjadi milikku.
Tuhan aku tak sanggup lagi menjalani cobaan ini. Air mataku terus mengalir. Dalam kesedihan yang melandaku, aku merasakan seseorang telah berdiri dibelakangku, aku berusaha menahan tangis untuk menoleh kebelakang. Aku terperanjat, iyen berdiri panik melihatku.
”dedi kenapa kau menangis”. Tanya iyen gugup. Ia memandangku heran bercampur cemas. Aku menatapnya tajam.
”sudahlah, aku sudah tahu semuanya, kau hanya berpura-pura peduli terhadapku, dan kau tidak perlu menyuruhku untuk menjauh darimu, karena aku akan melakukannya tanpa perlu kau jelaskan lagi. Aku tahu orang sepertiku tak pantas berteman denganmu. Tapi aku mohon kepadamu, jangan lagi kau menceritakan tentang keluargaku kepada orang lain. Anggaplah kita tidak pernah saling kenal”. Kataku dengan terus menyeka air mataku. Didepanku iyen sangat terkejut, ia tersentak kaget dengan wajah panik. Aku tahu itu hanya aktingnya saja, agar aku mengira kalau bukan dia yang menyuruh alun untuk mengingatkan aku menjauh darinya.
”dedi aku tak mengerti, tolong jelaskan dulu masaalahnya”. Iyen memohon sambil menahan tanganku ketika akan pergi meninggalkannya. Kutepis tangannya dengan kasar dan berbalik menatapnya kejam. Iyen terbelalak, seakan tak percaya dengan sikap kasarku.
”kuingatkan sekali lagi, aku memang tak punya apa-apa, tapi jangan pernah kau menghinaku dengan kemiskinanku itu. kau memang punya segalanya dan dengan mudah mencampakan siapapun. Namun jika tuhan mau dalam sekejap ia akan dengan mudah menghilangkan kecantikan yang membuatmu menjadi sombong. Sekarang aku memang tidak punya apa-apa, tapi satu saat aku akan membuktikan kepadamu. Ingatlah kata-kataku itu”. aku terus menangis menahan sakit hati. Iyen terpaku menatapku dengan bibir bergetar seperti tak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata. Namun kulihat air mata perlahan-lahan menepi dipelupuk matanya. Tak sedikitpun aku iba melihatnya dan terus pergi meninggalkannya yang masih terdiam seribu bahasa.


dedi padiku | foto | video | blog mengejar mimpi | blog facebook | profil facebook | facegor.
Read more

0 Bab 16: perangkap

naskah mengejar mimpi bab: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Beberapa hari ini perasaanku tak enak, suanda dan iwan akhir-akhir ini terlihat aneh. Aku menemukan sesuatu yang sedang mereka rencanakan. Pasti suatu rencana yang menjengkelkan lagi. Memang sudah menjadi tabiat mereka berdua untuk selalu berusaha mewujutkan keinginan mereka. Tidak akan menyerah sebelum tercapai. Aku tahu yang mendorong mereka untuk selalu seperti itu tak lain dan tak bukan adalah mustika.
Aku semakin tak tahan dengan ulah mereka itu. Berkali-kali gagal dalam menemukan mustika yang memang tidak pernah ada padaku, membuat mereka semakin berjibaku. kadang aku bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang mereka rencanakan kali ini?. Apakah mereka akan menodongku dengan pistol agar aku menyerah, atau mereka telah mempunyai teknik khusus seperti yang sering digunakan badan keamanan mengintograsi tersangka. Ah ...bisa-bisa aku jadi gila sama-sama mereka jika terus memikirkan hal ini.


Malam ini setelah mencuci mobil mereka langsung menghilang entah kemana. Di kamar tak ada. Terpaksa aku berbaring sendiri memikirkan ide sinting apa lagi yang sedang mereka sembunyikan dariku. Namun tak lama kemudian mereka berdua muncul dengan membawa sesuatu dalam kantongan.
”malam ini kita akan menikmati hidup, lupakan semua persoalan untuk sementara”. Kata suanda tersenyum-senyum sendiri. Ia mengeluarkan beberapa botol bir dari dalam kantong plastik. Iwan segera mengambil loyang dan menuangkan tiga botol bir ditambah dengan dua botol cocacola dan terakhir ia masukan susu kental manis.
Aku semakin heran dengan sikap mereka. Seumur-umur baru kali ini mereka membeli minuman.
”tenang ini hanya bir tidak akan membuat kita mabuk”. Bujuk iwan seperti petugas asuransi mengambil hati para nasabah. Bahkan bisa dibilang senyumnya mengalahkan senyum petugas asuransi kawakan. Entah apa yang telah merasuki kepala mereka berdua.
Sebenarnya malam itu aku tak mau minum, tapi memang pada dasarnya mereka pintar membujuk, akhirnya aku termakan hasutan mereka. Mulanya cara minumnya dilakukan secara bergilir memutar searah jarum jam. Jadi semuanya rata tak ada yang kelebihan minum dan yang kekurangan. Tapi semakin lama aturan itu sudah diabaikan. Dan aku yang semakin banyak mendapat sedoran minuman. Tapi karena aku keenakan dengan rasanya, aku tak mempersoalkan aturan tadi. Setiap minuman yang mengalir dalam tenggorokanku semakin terasa nikmat. Kami yang baru kali ini merasakan minuman, merasa seperti melakukan petualangan yang sangat menakjubkan. Kami tertawa sesuka hati. Suasana hati kami gembira.
Aku merasakan pusing yang aneh. Tak seperti biasanya. Aku merasa seperti tak berpijak lagi dilantai. Aku melihat seluruh ruangan kamar berputar. Sedangkan aku terasa jungkir balik. Tapi asik dan menyenangkan. Meskipun kepalaku terasa berat, tapi jika bergerak sedikit terasa seperti sedang berputar-putar.
”ini giliran kau lagi”. Iwan kembali menyodorkan segelas minuman. Aku langsung menyambarnya. Tanpa hitungan detik gelas itu telah kosong. Aku semakin senang dengan keadaanku yang hampir senewen. Suanda dan iwan memperhatikan aku. Mungkin mereka memastikan kalau aku tidak apa-apa.
Mataku semakin berat untuk terbuka, badanku lemas tak berdaya. Kulihat suanda dan iwan memperhatikan aku, wajah mereka cemas. Berkali-kali mereka bertanya padaku kalau aku betul-betul tidak apa-apa. Wajah mereka seperti orang yang sedang ragu-ragu mempertimbangkan sesuatu. Mereka berdua berdiskusi seperti sedang memusyawarahkan rencana yang sangat berat. Namun aku mendengar mereka mengatakan tentang aku.
”dia tidak apa-apa, memang begitu keadaan orang yang sedang mabuk, aku sering melihatnya di televisi”. Suanda menjelaskan kepada iwan. Rupanya mereka khawatir jika terjadi apa-apa denganku. Dan paling menjengkelkan mereka menyamakan aku seperti orang yang di televisi.
Kali ini mereka mendekatiku yang terbaring lemas. Aku hanya bisa mendengar suara mereka tapi tak mampu untuk bangun.
”yakin dia tidak apa-apa, aku takut jika sampai besok ia tak sadar-sadar, bagai mana nanti ia pergi kesekolah”. Kata iwan cemas. Ia meminta pendapat suanda.
”aku yakin dia tidak apa-apa, setelah tidur beberapa jam ia akan sadar lagi. Begitu yang dikatakan orang-orang yang sering biasa minum”. Suanda meyakinkan iwan. Berkali-kali mereka menggoyang-goyang badanku untuk sekedar memastikan kalau aku telah tidur. Aku masih dapat merasakan tangan mereka tapi badanku terasa tak ada tenaga sedikitpun. Dan aku masih bisa mendengar mereka berbicara.
Samar-samar aku mendengar iwan berbisik mengatakan kalau aku telah tertidur dan tak merasakan apa-apa lagi. Dan ternyata aku baru tahu, rupanya mereka sengaja merencanakan agar aku mabuk, supaya mereka dengan leluasa memeriksa seluruh tubuhku untuk mencari mustika. Kurang ajar betul mereka berdua, tunggu pembalasanku. Kali ini aku kecolongan dengan rencana sinting mereka. Entah dari mana mereka mendapatkan ide gila ini. Aku hanya pasrah menunggu apa yang akan mereka lakukan.
Dengan satu komando serentak mereka berdua melucuti semua pakaianku, memeriksa setiap inci tubuhku. Kepala, rambut, mata, hidung, telinga, dan mulut. Benar-benar mereka berdua sudah menjadi gila. Mana mungkin aku menyembunyikan mustika didalam mata atau didalam hidungku. Jangankan menyembunyikannya melihat saja aku tak pernah. Dasar orang-orang gila. Mereka pikir aku tak mengetahui semua yang mereka lakukan. Lihat saja aku akan membalas perbuatan kalian.
Kini aku hanya bisa pasrah ketika tubuhku dibolakbalik sesuka hati mereka. Seperti seorang dokter yang mengotopsi korban sunami. Kadang mereka mengangkat kedua kaki dan tanganku. Memeriksa dengan sangat teliti. Tak ada bagian tubuhku yang luput dari pemeriksaan mereka. Bahkan bagian yang paling sensitif tubuhkupun tak mereka lewatkan. Lebih menjengkelkan lagi, ditempat itu yang paling lama mereka periksa. Mungkin karena mereka baru kali ini melakukannya, jadi agak sedikit kaku. Kurang ajar betul.
Paginya mereka berdua membangunkan aku dengan wajah seperti orang yang tak berdosa sama sekali. Mereka berpura-pura seperti tak terjadi apa-apa semalam. Aku juga berpura-pura tak mengetahuinya. Tapi aku tetap akan ingat kejadian malam itu. Percuma jika aku marah-marah karena ulah mereka semalam. Itu malah membuat mereka tertawa terpingkal-pingkal. Aku hanya perlu membalas mereka dengan setimpal perbuatan mereka.


dedi padiku | foto | video | blog mengejar mimpi | blog facebook | profil facebook | facegor.
Read more

0 Bab 15: kedok terbongkar

naskah mengejar mimpi bab: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Didalam kamar aku sibuk mempraktekan ilmu sulap. Aku hampir tak percaya melihat percobaan yang aku lakukan. Sangat menakjubkan. Semua berjalan lancar sesuai petunjuk buku sulap itu. Awalnya aku sempat kesulitan melakukannya. namun Setelah berkali-kali mencoba dengan gaya bak seorang yang telah mempunyai ilmu tinggi, akhirnya aku sudah terbiasa melakukannya tanpa ragu-ragu. Kini aku melatih ekspresi wajahku, agar saat mendemonstrasikan ilmu itu, terlihat seperti orang yang benar-benar sakti mandraguna, yang raja setanpun takut berurusan denganku.
Aku semakin yakin kalau semua yang melihatku akan terperangah dan akan mengemis-ngemis ingin menjadi muridku. Malam ini seperti biasanya mereka akan berkumpul lagi setelah shalat isha. Dan aku seharusnya sekarang sudah berada disana mempersiapkan semuanya sebelum seorangpun datang ketempat itu.


Sehabis magrib aku langsung menghambur kerumah pak ustad yang menjadi tempat mereka berkumpul. Kulihat suanda dan iwan telah mengeluarkan semua kursi di dalam rumah. Mengepel lantai dan mengalasnya dengan karpet. Salah satu tempat duduk sangat berbeda dari yang lain yaitu dialas dengan permadani yang luasnya cukup satu orang. Tak salah lagi pasti itu tempat duduknya sang suhu.
Saat suanda dan iwan lengah sedikit keluar dari ruang tengah, aku langsung menyelinap masuk. Puluhan kertas korang yang telah aku sisipkan ramuan kimia, aku sebarkan ditengah-tengah ruangan. Tak lupa juga aku menaruh beberapa koran tepat didepan tempat duduk sang suhu. Dan yang terakhir sebagai pembukaan perkenalan saat pemuja ilmu sesat itu datang. Aku menyisipkan lima ramuan kimia dibawah permadani tempat duduk sang suhu. Tidak tanggung-tanggung aku menaruhnya lima sekaligus biar pantatnya kepanasan. Pasti ia akan meloncat kaget tak alang kepalang. Lihat saja nanti.
Untung aku telah selesai menaruh koran-koran itu saat suanda dan iwan masuk kedalam ruangan. Mereka sumringah melihat aku berada ditempat itu. Mungkin mereka mengira aku juga akan ikut masuk perguruan sesat mereka.
”akhirnya kau menyerah juga kawan”. Kata iwan dengan mata berbinar-binar.
”apa kau memimpikan suhu itu semalam sampai kau mau menjadi muridnya”. Lanjutnya lagi.
”tidak. Tidak sama sekali. Aku kesini bukan untuk menjadi muridnya, tapi untuk mencoba sampai dimana kemampuan suhu kalian itu”. Suanda dan iwan tertawa terbahak-bahak. Mereka mengira aku main-main.
”hati-hati dengan leluconmu itu, kalau ada yang mendengarnya, tamatlah riwayatmu. Untung hanya aku dan suanda yang mendengarnya”. Bisik iwan dengan serius sambil melirik kiri kanan takut ada yang mendengarnya. Mereka seperti tak tega jika terjadi apa-apa denganku. Aku tahu meskipun mereka memusuhiku tapi mereka tetap sayang kepadaku. Sudah bertahun-tahun kami hidup bersama tak ada yang dapat memisahkan kami.
”kawan maukah kalian membantuku untuk melawan suhu itu”. Pintaku kepada suanda dan iwan. Mereka memandangku serius seakan tak percaya. Wajah mereka seperti orang yang sedang menanggungkan sesuatu yang sangat berat sekali.
”apakah ini sudah keputusan terakhirmu”. Kali ini suanda yang angkat bicara.
”ya. Inilah keputusanku, kalian tahu kan suhu itu mengajar kalian dengan ajaran yang bertentangan dengan agama. Aku tak tega melihat warga desa yang dibodoh-bodohi oleh suhu itu, aku juga tidak memaksa kalian, biarlah aku yang akan menghentikan ini sendiri”. Kataku seperti orang yang akan pergi kemedan perang dan belum pasti bisa kembali lagi. Mereka tertunduk lesu. Dan kemudian dengan sangat meyakinkan mereka mendekatiku.
”baiklah kawan, kami akan bersamamu tak ada siapapun yang dapat memisahkan kita bertiga”. Kata iwan mantap seakan tidak takut akan resiko apapun. Sedangkan suanda lain lagi.
”aku tak akan membiarkan suhu itu menyentuhmu sedikitpun, walaupun ia akan merubah aku menjadi kodok”. Wajah suanda serius, tak sedikitpun ia tersenyum. Lihatlah itu biarpun ia akan menjadi kodok, ia akan tetap membelaku. sebenarnya aku sudah tak tahan ingin ketawa melihat wajah mereka, tapi aku tak ingin merusak suasana haru ini.
Kami bertiga bergandengan tangan, menunduk takzim membaca doa seperti orang yang telah memiliki janji dengan malaikat pencabut nyawa. Setelah itu kami berpandangan.
”kawan seandainya aku mati ditangan suhu itu, tolong penuhi keinginanku yang terakhir”. Iwan memohon. Aku menunduk menahan tawa.
”katakanlah kawan aku akan penuhi permintaamu”. Jawabku. Iwan terus memandangku dengan wajah sendu. Kawan kau memang sahabatku yang paling baik. mungkin itu arti tatapannya.
”berjanjilah kalau kau akan pergi berguru kebanten, setelah kau menjadi hebat balaskan dendamku”. Kata iwan penuh kemarahan. Nafasnya memburu, dadanya turun naik. Dan tiba-tiba suanda bersuara
”aku juga jangan kau lupa, seandainya aku menjadi kodok kembalikan aku kewujut semula”. Aku tak habis pikir seandainya jika ada yang melihat keadaan kami ini, pasti mereka akan tertawa terguling-guling, karna tak sanggup melihat wajah mereka berdua. Aku juga tak menyangka kalau mereka bisa seserius itu.
Pak ustad yang sempat melihat adegan kami tadi bertepuk tangan memberi semangat, wajahnya seperti ingin menagis, tapi bukan karna terharu melihat kami, tapi karena lebih ingin menahan tawa.
”bagus, memang seharusnya kalian harus bersatu menghentikan itu”. Kata pak ustad sambil menepuk-nepuk pundak kami.
”dan kalian jangan takut, aku akan mendukung sepenuhnya”. Lanjutnya lagi. Aku semakin bersemangat mendengar kata-kata pak ustad. bersama kedua temanku tak sedikitpun aku gentar melawan suhu itu. Tapi semoga saja jangan sampai suhu itu mengutuk kami menjadi kodok.
Sekarang satu persatu warga desa mulai berdatangan. Tak sampai beberapa menit ruangan telah penuh. Kami bertiga mengambil posisi tepat didepan sang suhu. Namun sang suhu belum juga datang. Memang seperti kebiasaan orang-orang penting di negara kita yaitu demi menegaskan bahwa mereka sangatlah berkuasa, sesuka hatinya datang. Padahal orang-orang sudah dari tadi menunggu. Tapi liat saja nanti suhu itu akan meraskan akibatnya. Kedoknya sebagai sinuhun ilmu sakti mandraguna akan terbongkar malam ini. Dan bukan hanya itu suanda dan iwan pasti tak menyangka kalau aku telah mempersiapkan semuanya. Bisa saja ketika melihat aku menjilati besi panas yang membara, suanda dan iwan akan pingsan ditempat.
Disekeliling kami orang-orang serius dengan bualan mereka masing-masing, ada yang sedang menceritakan ilmu kebal, ilmu pelet, ilmu menarik jodoh. Pokoknya berbagai cerita ilmu menyatu di tempat ini. Tapi ada satu cerita yang menarik perhatian kami yaitu konon katanya sang suhu ini pernah di bacok orang, tapi tak sedikitpun tubuhnya terluka. Menyadari itu orang yang membacok tadi telah pasrah meskipun sang suhu akan membunuhnya. Namun karena sang suhu bijaksana, orang itu dilepaskan begitu saja.
Mendengar cerita itu suanda dan iwan menjadi ketakutan, tubuh mereka mengerut di sampingku, Semangat yang barusan tadi berapi-api kini padam seketika, mereka memandangku dengan penuh isyarat bahwa masih punya waktu untuk mengurungkan niat ini. Namun tak sedikitpun aku terpengaruh. Suanda dan iwan tak bisa diharapkan lagi.
”kalian berdua diam saja, biar abangmu ini yang akan memberi pelajaran kepada suhu penipu itu”. Bisikku pelan agar tak ada yang mendengar. Suanda dan iwan hanya bisa memandangku heran penuh tanda tanya. Mereka ingin sekali mengetahui apa yang akan aku lakukan.
”lihat saja nanti, tak lama lagi”. Kataku mantap.
Tiba-tiba seluruh orang yang berada diruangan itu langsung terdiam, suasana menjadi hening beraroma ketegangan. Iwan berbisik.
”Sang suhu telah datang”. Iwan gugup, suanda menggigil ketakutan. Dan aku semakin tak sabar ingin melihat pantat suhu itu terbakar. Dari dalam kulihat tiga orang laki-laki memakai jubah memasuki pintu depan. Mereka berjalan tenang memasuki ruangan. Pria yang berada ditengah nampak lebih berwibawa. Namun aku menangkap satu kesan bahwa orang ini berusaha mati-matian Agar terlihat lebih berwibawa. Atau lebih tepatnya ia sedang bersandiwara. Pasti dialah sang suhu tersebut. Sedangkan dua orang ajudannya nampak merasa bangga melihat seluruh yang berada diruangan menunduk takzim. Seperti tikus melihat harimau. Lebih tepatnya demikian, karena kalau melihat kucing biasanya ada juga tikus yang tidak takut. Jadi perumpamaannya sengaja menggunakan harimau.
Aku tegang saat sang suhu mendekati tempat duduknya. Aku berharap ramuan kimia itu berpungsi sengan baik. Tak tanggung-tanggung aku menaruhnya lima sekaligus. Biar dia tahu rasa. Aku ingin sekali melihat reaksinya ketika meloncat dari tempat duduknya. Karena pantatnya terbakar oleh ramuanku. Pasti sangat mengasikkan.
Kini sang suhu mengambil posisi untuk duduk bersila sama seperti yang lainnya duduk melantai. Aku semakin gugup menunggu reaksi ramuan ajaibku. Seperti orang yang menunggu komando regu penembak mati, dalam eksekusi hukuman tembak mati. Namun ramuanku belum juga bekerja. Aduh kenapa ia masih belum bereaksi. Dalam hatiku cemas. Jangan-jangan sang suhu tau kalau ada perangkap, dan dengan ilmunya larutan kimia itu tak berarti apa-apa.
Aku ketakutan ketika sang suhu melirikku. Mungkin ia tahu kalau aku bermaksut melawannya. Aku membaca seluruh doa tolak bala yang aku hafal berulang-ulang. Dan tak henti-hentinya memohon kepada tuhan. Suanda dan iwan sudah tak bisa diharapkan lagi. Untuk menarik nafas saja mereka sudah tak mampu. Aku berusaha mencari seseorang diantara ratusan orang yang duduk didepanku. Semoga saja pak ustad bisa memulihkan mentalku yang hampir saja putus asa. Aku tak menemukannya diantara orang –orang yang duduk berdesaskan. Tapi aku merasakan ada seseorang yang terus mengawasiku dari samping. Aku menolehnya, dan rupanya pak ustad telah duduk disamping suanda disebelahku. Sejak dari tadi ia memperhatikan aku. Melihatnya tersenyum aku sedikit merasa tenang. Aku tak boleh menyerah begitu saja. Aku tahu, hanya akulah satu-satunya harapan pak ustad. Sekali lagi aku menatap wajahnya, pak ustad tersenyum tenang seakan ia percaya kalau kali ini aku akan berhasil menghentikan kemungkaran ini.
Aku semakin yakin akan keputusanku. Dan tiba-tiba sebelum aku memalingkan wajah. Seseorang didepanku yang tak lain adalah sang suhu, melonjak dari tempat duduknya. Ia memekik begitu terkejut tak alang kepalang. Wajahnya ketakutan, nafasnya memburu tesengal-sengal. Bukan hanya sang suhu, seluruh yang ada disitu ikut terperangah menyaksikan api yang berkobar-kobar membakar permadani tempat duduknya sang suhu. Menyadari kejadian itu hampir saja aku berteriak kegirangan karna perangkapku berhasil. Ternyata tuhan menolongku menghentikan kemungkaran ini. Aku semakin tak tahan untuk mendemonstrasikan kemampuan yang akan membuat seluruh yang berada disini mencium tanganku.
Tak ada seorang pun yang berusaha untuk memadamkan api yang berkobar-kobar itu. Karena Semuanya terpana dengan mulut terbuka tak habis pikir dengan kejadian yang sangat menakjubkan itu. Pak ustad saja sang pemilik rumah tak sempat berpikir kalau kebakaran itu bisa saja merembet ketempat lain. Belum hilang rasa terkejut, tiba-tiba lagi terjadi yang lebih menakjubkan. Sang suhu kembali meloncat sekuat-kuatnya, kali ini ia kelihatan sangat ketakutan sekali, tubuhnya gemetaran, mukanya pucat, dan bibirnya bergetar hebat memandangi tumpukan upeti pemberian warga yaitu rokok, gula pasir, dan amplop yang terbakar dengan sendirinya.
Aku saja terkejut melihat kejadian itu. Tapi untung saja kuingat kalau tadi aku menaruh beberapa koran yang telah disisipi ramuan kimia, tepat didepan sang suhu. Namun koran itu telah tertutup oleh berbagai upeti pesembahan warga yang terbakar itu. Malam ini sang suhu benar-benar sial. Sebenarnya koran yang aku taruh didepannya itu, akan aku gunakan untuk membuat mereka terperangah dengan cara memukul koran itu. Namun belum sempat aku melakukannya, sang suhu tak sadar meloncat ketempat yang telah aku taruh koran-koran tadi. Dan memang begitulah kekuasaan tuhan menghukum hambanya dengan cara yang tak diduga-duga. Kini aku hanya menikmati wajah suhu penipu ini ketakutan.
Semua masih terpana larut dalam rasa takjub yang sangat dalam. Wajar saja sebab kejadian seperti ini sangat jarang terjadi. Aku saja yang merencanakan kejadian ini, sempat juga hampir tak percaya melihanya. Kini rumah pak ustad telah menjadi gaduh dikerumuni ratusan orang yang semakin berdatangan setelah mengetahui kejadian itu. Bahkan mami aco tanteku yang cacat, kulihat sudah berada ditempat ini. Kepalanya menyembul-nyembul diantara orang-orang yang hanya bisa mengintip dari jendela. sebab rumah pak ustad sudah tak sanggup lagi menampung ratusan warga yang semakin bertambah banyak.
Masih dalam suasana takjub, aku langsung berdiri dengan sangat penuh percaya diri. Aku tahu ini adalah kesempatan yang tepat untuk menjatuhkan suhu gadungan itu. Perhatian seluruh warga kini beralih kepadaku, yang sangat diplomatis berpidato di depan mereka.
”aku yakin kejadian barusan ini bukanlah terjadi dengan sendirinya, tidak mungkin tanpa ada sesuatu tiba-tiba api mengejar sang suhu untuk berusaha membakarnya. Ketika sang suhu duduk, tiba-tiba tempat duduknya terbakar. Dan ketika ia meloncat ketengah, di situ juga ikut terbakar. Jadi bisa disimpulkan ada seseorang yang ilmunya lebih tinggi dari sang suhu, atau bisa saja suhu ini tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Karna buktinya ia tak bedaya sama sekali, kalian lihat kan mukanya yang ketakutan”.
Penjelasanku membuat semua yang berada disitu terdiam, mereka berusaha menganalisa ucapanku. Dan kemudian semua setuju denganku. Salah seorang dari mereka berusaha bertanya.
”jadi kira-kira siapa orang yang berilmu tinggi itu, pastilah ia bukan orang sembarangan”. Pertanyaan orang itu membuat semua yang berada di tempat ini saling berpandangan, berusaha mencari tahu siapa sinuhun yang sangat sakti mandraguna itu.
Aku semakin tak sabar ingin melihat mereka berebutan mencium tanganku setelah mengetahui jika akulah orang yang berilmu tinggi itu. Semua kembali terdiam mendengarku berbicara. Mereka tesihir dengan rasa percaya diriku yang kuat. Bahkan mereka hanya bisa mengangguk-angguk membenarkan setiap kata-kataku.
”baiklah jika saudara-saudara ingin mengetahui orang itu, ia sekarang masih berada disini”. Suasana menjadi hening seketika. Semua terdiam menanti siapa orang yang aku maksudkan itu. Suanda dan iwan terus memandangku aneh, aku tahu mereka mengira aku hanya membual. Tapi biarlah, tak lama lagi mereka pasti akan ikut berebutan mencium tanganku.
Dengan gaya layaknya orang yang telah memiliki ilmu yang sangat tinggi, aku memandangi salah satu tumpukan puluhan bungkus rokok yang diam-diam tadi saat aku melewatinya, aku menginjak koran yang berada di bawahnya untuk memecahkan larutan kimia yang aku selipkan didalam koran itu. Tentu saja mereka tak mengerti kalau sumber ilmu adalah ramuan kimia.
Mereka terus memandangku ganjil penuh tanda tanya. Dan yang paling menjengkelkan adalah cara suanda dan iwan memandangku. Mereka melihatku seperti orang yang sakit jiwa. Tapi beberapa detik kemudian semua berubah memandangku kagum. Mereka tak percaya melihat kemampuanku bisa membakar tumpukan rokok hanya dengan memandangnya. Pantasan saja sang suhu tadi di uber-uber kobaran api. Mungkin demikianlah yang ada dalam pikiran mereka. Bagaimana mungkin anak kecil seperti aku bisa begitu hebat sampai membuat sang suhu seperti dedemit dimarahi raja hantu.
Kini mereka telah mengetahui kalau akulah sinuhun yang sakti mandraguna itu. Mereka tak menyangka bahwa selama ini aku yang tak pernah terlihat berguru atau setidaknya berperawakan seperti orang yang telah berilmu tinggi, diam-diam menyimpan ilmu yang sangat menakjubkan. Kulihat pak ustad menangis haru dengan bibir begetar tak henti-hentinya mengucapkan subahanallah, pak hama yang seminggu lalu menghajar kudaku karena telah memakan padinya terlihat seperti sangat menyesal, namun kali ini ia seakan mengatakan kalau ia akan membiarkan kudaku jika mau memakan lagi padinya, sedangkan dua anak norak yang tak lain adalah suanda dan iwan, seakan ingin meloncat dari tempat duduknya untuk mengatakan kepada semua orang kalau aku adalah teman mereka yang melehebihi saudara.
”iwan cepat kau ambil kompor dan besi yang berada dibelakang”. Perintahku. Nyaris saja membuat jantungnya copot, tanpa banyak cincong iwan cepat-cepat kebelakang seperti telah mendapat perintah dari malaikat maut. Tak mau ketinggalan Suanda mengikuti iwan. Mereka sangat senang mendapat perintahku.
Tak lama kemudian suanda dan iwan muncul tergopoh-gopoh. Wajah mereka layaknya penjilat yang berusaha mengambil hati para pejabat negara untuk mendapatkan proyek. Wajah mereka berbinar-binar bangga mendapat perintah dariku. Bahkan sesekali suanda berdiri memandang wajah seluruh warga seolah mengatakan lihatlah kawanku ini kalian jangan macam-macam dengannya kalau tak ingin di rubahnya menjadi kodok. Suanda terus mengumbar senyum girang penuh kebanggaan.
Aku menyuruh mereka berdua membakar besi diatas kompor. Sedangkan aku pamit sebentar kekamar kecil. Para warga yang menutupi jalanku sontak terjajar kebelakang memberi aku jalan dengan wajah ketakutan. Didalam kamar kecil aku berkumur dengan larutan kimia yang telah aku persiapkan. Kali ini mereka akan lebih tekejut lagi melihat aku menjilati besi yang telah memerah membara. Tak lupa juga aku memoles kedua tanganku agar tak terbakar saat memegang besi panas itu. Aku kembali ketempat pertunjukan. Semua tegang mengantisipasi apa yang akan aku lakukan.
Sebagian orang seakan cemas melihatku, mungkin takut seandainya besi panas itu akan membakarku. Aku memegang besi yang telah memerah akibat terlalu lama dibakar diatas kompor. Saat aku mulai menjilatinya, semua tecekat. Mata mereka melotot seperti anak kecil melihat hantu. Selama pertunjukan itu aku hanya bisa melihat seluruh warga memandangku kagum. Mereka terperangah dalam suasana yang menakjubkan. Aku telah berhasil menghentikan perguruan sesat mereka. Namun sejak kejadian itu aku semakin kurang nyaman keluar rumah. Mereka terlalu berlebihan menghargaiku. Sebaliknya suanda dan iwan sangat menikmati keadaan itu. Ketika keluar rumah suanda dan iwan senang bukan main jika ada warga yang memandang kagum kepada kami. Tapi tak apalah yang penting aku talah berhasil menyelamatkan kebodohan mereka.
Satu lagi keuntungan dari kejadian itu, yaitu suanda dan iwan memperlakukan aku dengan sangat istimewa. Setiap malamnya mereka melarang aku untuk mencuci mobil. Katanya biar mereka yang akan membereskannya. Dan ketika dikamar mereka berebutan memijat seluruh anggota tubuhku. Aku semakin geli melihat sikap mereka berdua. Berbagai macam cara mereka gunakan untuk membujuk aku menurunkan ilmuku. Padahal jika mereka tahu sebenarnya itu hanyalah ilmu sulap, pasti mereka akan menghujatku habis-habisan karena telah berani menipu seluruh warga. Tapi biarlah untuk sementara ini aku ingin suanda dan iwan menganggapku sang suhu penguasa segala macam ilmu.
Tapi ada satu hal yang membuat aku bangga dengan kejadian itu yaitu sebagian warga yang tadinya jarang shalat kini jadi semakin rajin kemesjid setelah mendengar kalau aku mendapatkan ilmu itu di dalam shalat. Bahkan pak hama yang tak pernah kelihatan shalat, kini sudah mulai kemesjid setiap hari jumat dan hari lainnya shalat dirumah.
Aku tak menyangka jika perbuatanku itu membawa kebaikan kepada banyak orang. Tetapi suanda dan iwan tetap saja mencurigaiku. Mereka selalu berusaha mencari tahu tentang bagaimana aku mendapatkan ilmu itu. Dalam hal ini iwan semakin yakin jika aku diam-diam telah menemukan mustika yang menjadi sumber ilmuku. Suanda yang termakan hasutannya bersekongkol dengannya menggeledah kamarku demi menemukan mustika itu.
Dan yang paling menjengkelkan adalah mereka sering menggeledah tubuhku pelan-pelan ketika aku tertidur. Gerak gerik mereka layaknya detektif yang bertugas memata-matai aku. Mengendap-endap, berjingkat-jingkat ketika aku sedang tidur. Bahkan aku sering terbangun dari tidurku karena ulah mereka. Setiap inci tubuhku diperiksa dengan sangat hati-hati. Mereka mengira aku telah memasukan mustika itu kedalam kulitku. Dengan gerakan yang seperti telah terlatih suanda dan iwan meraba-raba tubuhku. Dan kadang karena kesintingan mereka, tampa ragu-ragu dengan seenaknya memasukan tangan mereka kedalam celanaku untuk mencari mustika yang mereka anggap aku sembunyikan disitu. Kurang ajar betul.


dedi padiku | foto | video | blog mengejar mimpi | blog facebook | profil facebook | facegor.
Read more

0 Bab 14: petunjuk

naskah mengejar mimpi bab: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Didalam kamar tinggalah aku sendiri, iwan dan suanda telah menjauhiku. Aku menangis tersedu-sedu memohon kepada tuhan agar diberinya petunjuk. Berjam-jam aku telah menangis mengingat kedua sahabatku itu, betapa persahabatan yang telah bertahun-tahun dengan mudahnya hancur hanya karena suhu penipu itu. Suanda dan iwan yang paling mengerti keadaanku. Dan kini mereka telah menjauh dariku.
Diantara tidur dan terjaga aku teringat akan buku sulap yang aku pinjam dari om sam dulu. Aku langsung meloncat bangun. Tiga tahun lalu buku itu aku lupa kembalikan kepadanya. didalam buku itu ada salah satu sulap yang berjudul ”kertas koran terbakar hanya dengan pandangan mata”. Aku langsung membongkar seluruh buku yang berada di dalam lemariku. Rupanya ia masih berada disitu.
Aku membuka halaman demi halaman dengan tidak sabar. Dan mataku langsung menyala terang ketika membaca judul yang aku cari itu. Bukan hanya itu, satu lagi sulap yang aku yakin akan membuat suhu itu ketakutan yaitu ”menjilati besi panas membara”. Aku senang bukan main, pasti semua yang melihatku menjilati besi panas yang membara itu akan langsung mengangkat aku sebagai guru mereka. Sedangkan suanda dan iwan pasti akan mengemis-mengemis ingin menjadi muridku. Aku semakin tak sabar melihat mereka terperangah.


Tak sedikitpun aku tidur malam itu. Aku mempelajari dengan baik cara-cara melaksanakannya dari awal hingga akhir. Aku membacanya pelan-pelan takut ada yang terlewati. Buku itu mengatakan untuk membakar kertas koran dengan pandangan mata, aku harus menyiapkan larutan kimia yang bernama glicerin dan perpaknas atau pk. Kemudian masing-masing larutan itu dimasukan dalam plastik yang sangat kecil dua centi meter. Setelah itu kedua plastik itu di satukan kedalam satu plastik yang penting bisa menampung keduanya. Dan langkah terakhir ramuan yang telah jadi itu disisipkan kedalam kertas koran.
Aku semakin tak sabar membaca bagaimana cara kerja bahan itu. Kemudian untuk membuat kertas koran terbakar aku harus memencet ramuan kimia yang disisipkan kedalam lipatan koran tadi, sehingga kedua larutan kimia itu tercampur mengakibatkan panas yang akan membuat koran terbakar. Didalam buku itu juga mengatakan untuk menghilakan kecurigaan kalau koran telah di rekayasa aku harus menyiapkan koran-koran itu dengan menaruhnya disembarang tempat sebelum pertunjukan dimulai. Sehingga para penonton mengira koran itu memang belum diapa-apakan.
Sekarang aku mulai membaca sulap yang satunya lagi yaitu menjilati besi panas membara. Dalam mempraktekkannya sangat mudah yaitu memoles lidah dan bibir dengan larutan kimia yang bernama storak encer. Atau bagusnya berkumur saja dengan larutan itu, namun jangan sampai tertelan. Wah….hebat, benar-benar hebat pengarang buku ini. Setelah membaca buku itu, tak sedikitpun aku merasa ngantuk. Aku tak sabar menunggu datangnya pagi.

OOO

Setelah pulang sekolah aku langsung ke apotik yang berada disekitar terminal. Siang itu aku terpaksa bolos dari pekerjaanku, aku menitip pesan untuk pamanku kepada calo-calo yang telah lama mengenal aku dan pamanku. kami dan para calo adalah patner kerja yang saling menguntungkan, sebab para calo mendapatkan penghasilan dari mengisi mobil para sopir dengan penumpang. Dan begitu juga sebaliknya kami mendapatkan penghasilan dari penumpang mereka.
Hari ini aku di temani iton teman sebangku denganku. Kebetulan jalan pulangnya melewati rumahku. Sebenarnya aku tak mau merepotkan orang. Tapi iton selalu memaksaku untuk ikut naik mobilnya. Jadi aku tak ada pilihan lain. Satu keuntungan juga bagiku yaitu tak pelu mengeluarkan biaya transportasi. Iton sangat baik terhadapku, setiap hari aku selalu diajaknya makan dikantin. Ia tidak akan makan jika aku tak ikut dengannya. Jarang ada orang kaya bersifat seperti dia disekolahku. Meskipun iton mempunyai beberapa buah mobil, ia lebih suka naik motor. Sering iton dimarahi ibunya di telfon karena tidak memakai mobil kesekolah.
Dan jika iton menggunakan mobil kesekolah itu artinya ibunya telah bangun pagi hanya untuk memastikan agar ia menggunakan mobil kesekolah. Pernah iton menceritakan kepadaku katanya ia sering mengelabui ibunya dan pembantunya. Ketika akan berangkat kesekolah iton berpura-pura menghidupkan mobil, tapi ia tak menggunakan mobil itu. Mendengar mobil distater, ibunya mengira iton akan menggunakannya. Maka ibunya tak perlu keluar kamar. Padahal sebenarnya iton diam-diam mengeluarkan motornya, dan baru akan menghidupkannya jauh dari rumahnya. Dan biasanya setelah ibunya mengetahuinya ia akan menelpon dan memarahi iton.
Iton juga termasuk dalam pengecualian sistem disekolahku yaitu siswa yang tak perlu sibuk mengikuti tes seleksi masuk dan kegiatan masa orientasi siswa baru. Jadi kami baru saling kenal setelah masa orientasi siswa baru. dan pada saat aku diangkat menjadi ketua kelas. Pada waktu itu ia memilih duduk sebangku denganku. Di sampingku ia terus bertanya tentang aku. Aku menceritakan semuanya dan diapun demikian menceritakan tentang keadaan keluarganya, tentang ayahnya yang bekerja diperusahaan pengoboran minyak diluar negri, tentang kakak perempuannya yang kuliah di jogja, dan kadang juga ia mengatakan marah kepada ibunya, karena hanya melahirkan dua anak saja. Sehingga ketika kakaknya kuliah kejogja ia tak punya teman lagi dirumah.
Mungkin karena tak punya saudara laki-laki, maka ia memperlakukan aku seperti saudaranya. Bahkan setelah mendengar tentang keadaanku, ia menawarkan aku agar tinggal saja dirumahnya dan katanya ibunya pasti senang kalau ada teman laki-laki dirumahnya. Dan ia juga akan membiayai seluruh uang sekolahku sampai kuliah nanti. Sebenarnya aku sangat senang mendengar itu. Tapi dari dulu aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak menerima belas kasihan orang lain. Aku sudah muak dengan orang-orang yang memandangku tak bisa berbuat apa-apa sejak aku masih kecil. Sejak itu aku berjanji untuk tetap berjuang menuju sukses sampai kapanpun. Aku akan membutikan kepada orang-orang dan pada diriku sendiri kalau aku bisa berdiri tegak tampa belas kasihan orang lain.


dedi padiku | foto | video | blog mengejar mimpi | blog facebook | profil facebook | facegor.
Read more

0 Bab 13: ilmu sesat

naskah mengejar mimpi bab: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Aku dan suanda semakin khawatir dengan keadaan kawan kami iwan. Sejak perkenalannya dengan pak ustad arifin rahim yaitu tetangga baru didepan rumahku. Ia jadi tak karuan. Bapak arifin rahim sering dipanggil Pak ustad saja. Ia bekerja sebagai penasehat spiritual di lembaga pemasarakatan gorontalo daerahku. Dan pernah kukatakan kepadamu kawan bahwa iwan tergila-gila dengan ilmu kebatinan, maka setiap malamnya ia semakin jarang berkumpul dengan kami. Ia lebih suka berada dirumah pak ustad sampai larut malam. Tak salah lagi ia pasti sedang berguru mati-matian dengan ustad itu.
Jika iwan sedang berada dengan kami, ia selalu membicarakan tentang kehebatan ustad itu. Setiap jam, setiap hari, berminggu-minggu itu terus yang ia ceritakan. Tak ada yang lain lagi di kepalanya selain pak ustad. Aku dan suanda semakin penasaran dengan ustad itu. Kami ingin sekali bertemu dengannya.


Setelah shalat isah biasanya pak ustad akan duduk diterasnya. Dan yang paling setia menemaninya tak lain lagi adalah iwan. Hubungan mereka setiap hari semakin dekat. Tentu saja iwan sangat bangga dengan kedekatannya kepada orang yang dianggapnya sakti mandra guna itu. Iwan sangat hormat sekali dengan ustad itu. Dan bukan hanya iwan saja, seluruh orang dikampung kami juga sangat menghormati sang ustad. Karena orang-orang dikampung kami sangat menghormati aparat keamanan. Apalagi pak ustad adalah polisi lembaga yang setiap harinya selalu berhadapan dengan narapidana yang selalu keluar masuk penjara akibat kasus pembunuhan.
Pak ustad sering mengisahkan pengalamannya dulu waktu ia bertugas sering menangkap para penbunuh yang melarikan diri. Mendengar itu aku bisa membayangkan resiko berhadapan dengan pembunuh. Pasti tugas itu sangatlah berat. Menangkap maling ayam saja aku tak berani. Pantas saja pak ustad sangat dihormati para masarakat. Mungkin saja ia memiliki ilmu, karena jika ia tak memiliki ilmu sedikitpun pasti dengan mudah saja akan dilumpuhkan oleh para pembunuh itu. Ada sedikit rasa kagum kami dengan ustad ini. Aku dan suanda semakin ingin bertemu dengannya.
Setelah shalat isha aku dan suanda bertandang kerumahnya. Kami melihat iwan sudah bersama dengan pak ustad diteras rumahnya.
”assalam alaikum pak ustad”. Ucapku dengan sangat ramah. Mengalihkan perhatian keduannya.
”waalaikumsalam warahmatulahi wabarakatu”. Balas pak ustad dengan sangat bersemangat. Pak ustad langsung berdiri menyediakan kursi menyuruh kami duduk. Beliau sangat menghormati tamunya. Kami sangat terkesan dengan kerendahan hati beliau. Meskipun kami bukan siapa-siapa, ia tetap menghargai kami. Sangat jarang ditemukan orang seperti beliau. Tak sedikitpun tersirat kesombongan dari wajahnya dan dari setiap tutur kata dan tingkah lakunya. Tapi sebaliknya anak udik yang duduk disampingnya yang tak lain adalah iwan, sombongnya minta ampun. Sejak pertama kami datang iwan bersungut-sungut cengar-cengir seperti kingkong mengajak kawin, ia sangat ingin sekali kami juga menjabat tangannya, seperti yang kami lakukan kepada pak ustad tadi. Ia semakin jengkel ketika tak sedikitpun kami acuhkan.
Pak ustad meninggalkan kami sebentar kedalam. Tak lama kemudian beliau membawa dua gelas minuman. Kami sangat tak enak hati diperlakukan dengan sangat baik begitu.
”aduh pak ustad, jadi membuat pak ustad repot”. Kataku. Kulihat iwan sepertinya ingin sekali menimpali perkataanku tadi. Tapi tak sedikitpun kami perdulikan.
”ah tidak-apa-apa, hanya sedikit rejeki dari allah”. Kata pak ustad seakan ini tidaklah merepotkan.
Berawal dari minuman meluncurlah kata-kata bijak dari pak ustad yang menjelaskan tentang rejeki yang diberikan tuhan. Pak ustad menjelaskan tentang bagaimana kita mensyukuri nikmat yang diberikan tuhan kepada kita. Kami sangat terpesona dengan penjelasan pak ustad. Beliau menjelaskan dengan sangat bijaksana. Kami sangat menikmati setiap tutur kata yang membuat kami tak berpaling sedikitpun
”jika kita bisa mensyukuri nikmat tuhan dengan sebenar-benar rasa syukur. Maka kita akan selalu merasakan ketenteraman jiwa. Coba pikirkan sebenarnya nikmat kesehatan yang diberikan tuhan kepada kita sangatlah besar. Tapi sebahagian orang tak menyadarinya. Seandainya tuhan menghilangkan penglihatan kita, biar Cuma seminggu apa yang akan kalian lakukan. Apalah arti kekayaan yang melimpah ruah, istri yang cantik, rumah yang mewah, mobil yang banyak jika kita tak bisa melihatnya atau menikmatinya. Jangankan itu kedua kaki kita saja sangat jarang kita syukuri, padahal sangatlah banyak orang didunia yang telah kehilangan kedua kakinya. Sedangkan kita yang masih bisa berjalan kemanapun yang kita inginkan, tak sedikitpun merasa bersyukur.
”Banyak orang-orang yang hidupnya berkecukupan masih selalu merasa kurang. Padahal ia mempunyai semuanya. Tapi tetap saja didalam hatinya merasa miskin. Ia selalu merasa was-was tidak tenang karena takut akan kehilangan hartanya. Setiap malamnya ia sulit tidur karena dihantui oleh kecemasan-kecemasan yang tak beralasan. Ia akan semakin ketakutan jika jangan-jangan nanti akan ada orang yang akan berusaha menggulingkan jabatannya.
Maka berawal dari sifat kufur nikmat orang seperti itu akan terjerumus kedalam hal-hal negatif. Ia akan selalu berpikiran negatif yang membawa dia mendatangkan bermacam-macam penyakit pikiran. Ia akan melihat segala apapun didunia ini dari sisi yang negatif. meskipun didepannya terbentang pemandangan yang sangat indah, ia akan mengatakan, ini sangatlah buruk. Pikiranya akan menarik dalih-dalih yang akan membuktikan kepada dirinya bahwa hari ini sangatlah buruk. Ia akan menjadi orang yang sangat pesimis.
Dan orang pesimis akan selalu memandang peluang apapun dengan kegagalan, pikirannya akan semakin membuktikan hal-hal yang akan membawa dia membenarkan setiap resiko kegagalan, maka orang seperti ini tidak akan pernah mengambil satupun peluang besar yang bagi orang lain merupakan peluang yang sangat baik. Orang seperti ini akan melihat dirinya serba kekurangan, ia akan melihat dirinya semakin terpuruk tidak akan mampu untuk mengerjakan hal-hal yang besar. Dan karena dalam pikirannya ia merasa kecil, maka orang-orang disekitarnya akan melihat hal yang sama pula.
Coba kalian sedikit saja melihat seorang pengemis, pengemis itu melihat dirinya rendah, hina, maka untuk berjalan saja ia akan terseok-seok karena pikirannya akan selalu mengatakan inilah saya orang yang tidak mampu untuk berbuat banyak. Tapi sebaliknya bila kita melihat orang yang selalu mensyukuri apapun yang diberikan tuhan kepadanya. Meskipun ia tak memiliki kemampuan yang dimiliki orang lain, tapi ia akan selalu mengatakan kepada orang bahwa ia akan selalu berusaha. Orang ini memiliki semangat dan kepercayaan diri yang kuat yang akan membuat dirinya akan selalu total dan bersungguh-sungguh melakukan hal apapun. Karena orang ini percaya akan kemampuannya maka orang lain pun akan menaruh kepercyaan kepadanya. Kesungguhan dan keyakinan akan sesuatu pasti bisa dilakukan akan mendorong minat dan hasrat kita untuk melakukannya. Dan apa bila kita begitu berhasrat maka dengan sendirinya kita akan menemukan cara untuk menyelesaikannya.
”Ini pernah terjadi dalam pengalaman saya, ketika itu saya sedang memberikan materi bimbingan kepada ratusan narapidana. Sebenarnya saya menolak tugas ini, tapi karena pak kepala lembaga turut menyaksikannya maka tak ada pilihan lain saya harus melakukannya meskipun saya belum siap akan hal ini. Saya merasa sangat gugup waktu itu. Selain gugup saya juga kurang berminat dengan apa yang saya bicarakan sehingga kelihatan kurang bersemangat. Namun tetap juga saya paksakan memberi bimbingan.
”Diawal kalimat saya mulai mengutuki diri saya sendiri, karena merasa tidak mampu melaksanakan tugas itu. Sepanjang memberi bimbingan saya terus mengeluh dalam hati. Karena tak seorang pun yang memperhatikan saya berbicara. Para nara pidana seenak hatinya menguap. Bahkan ada yang sampai tertidur. Sedangkan para polisi lembaga lainnya sedang asik dengan topik pembicaraan masing-masing.
”Setelah kajadian itu saya merenung sendiri tentang sikap orang-orang tadi. Saya menemukan kesimpulan jawabannya bahwa mereka tidak tertarik dengan apa yang saya bicarakan, karena saya sendiri tidak berminat dengan apa yang saya sampaikan. Setelah mengetahui itu saya berusaha bersungguh-sungguh untuk menaruh minat dengan setiap apa yang saya bicarakan. Atau lebih tepatnya saya sangat berhasrat sekali untuk berbicara.
”Kemudian pada kesempatan lain, pak kepala tetap menyuruh saya untuk mamberikan bimbingan kepada narapidana itu lagi. Baru saja mendengar nama saya disebutkan lewat pengeras suara, sebagian narapidana memperlihatkan raut wajah tak mengenakan. Namun saya amat yakin bahwa setelah mendengar saya berbicara nanti, pasti mereka akan berebutan menjabat tangan saya. Ternyata keyakinan dan kepercayaan itulah yang membuat semangat saya berada pada puncaknya. Maka saya pun memberi ceramah dengan sangat bersemangat. Saya merasa yakin bahwa mereka akan menyukai ceramah ini. Saya pun dengan sendirinya menemukan teknik dan cara menyampaikan ceramah yang paling baik. Dan beberapa menit kemudian mereka sangat antusias mendengar ceramah saya yang meledak-ledak. Bahkan saya tak menyagka mereka akan berebutan bertanya pada saat saya memberikan kesempatan”.
Tak terasa waktu semakin larut, kami terkesan dengan penjelasan pak ustad. Beliau menjelaskan dengan sangat mendetail. Tak sedikitpun kami bertiga memotong penjelasannya. Jangankan kami, para narapidana saja jika mendengar pak ustad memberi nasehat, akan terdiam menyimak dengan seksama. Baru kali ini aku mendengar penjelasan panjang lebar hanya dengan satu topik saja yaitu bersyukur, Tapi bisa sampai melebar keaspek-aspek penting lainnya. Ternyata rasa syukur dapat mengandung makna yang begitu luas jika dijelaskan oleh orang seperti pak ustad.
Setelah pertemuan kami malam itu, kami semakin ingin bertemu lagi dengan pak ustad. Tak jarang setiap ada kesempatan kami memanfaatkan untuk mendapatkan nasehat darinya. Bukan cuma kami saja, para warga desa pun sering bergantian datang. Dan pada suatu malam di antara puluhan warga yang memenuhi rumahnya. Datanglah salah satu suhu ahli ilmu kebatinan yang masih temannya pak ustad. Sebenarnya suhu itu hanya sekedar datang untuk acara sukuran anak kedua pak ustad yang baru lahir. Tapi sejak seluruh warga mendengar suhu itu berbicara tentang ilmu kebal terhadap segala macam benda tajam bahkan peluru pun tak mempan – maka suhu itu sering mendapat undangan oleh warga.
Dan kini kedatangan beliau sudah seperti menjadi kewajiban. Sebernanya pak ustad sangat tak enak hati dengan kegiatan mereka. Karena pembicaraan mereka sudah melenceng jauh dari tuntutan agama. Bahkan sang suhu itu sering mengambil pemberian warga seperti gula pasir, rokok, bahkan ada yang memberikan amplop yang pasti berisi uang.
Kini kegiatan rutin mereka setiap malam jumat berubah menjadi transaksi jual beli ilmu. Orang yang paling banyak upetinya akan mendapatkan perlakuan tersendiri dari sang suhu. Dan tentu saja salah satunya yang paling banyak upetinya tak lain adalah kawanku sendiri iwan. Karena keinginannya akan ilmu telah membuat hatinya buta. Ia tak sadar lagi kalau ajaran itu sangat bertentangan dengan ajaran agama.
Bayangkan saja suhu itu mengatakan sebenarnya kalau orang yang sudah berilmu tinggi seperti dirinya, jika mengerjakan shalat hanya dengan mengedipkan mata telah menunaikan shalat. Aku semakin khawatir dengan temanku ini. Ia tak ubahnya sama dengan warga lainya yang dengan mudah saja ditipu oleh suhu itu. Dan jika aku menasehatinya ia akan mati-matian membela suhunya. Bahkan pernah ia marah karna aku tak mempercayai ceritanya. Iwan mengatakan kalau suhunya itu jika tiba waktu magrib sering menghilang untuk melaksanakan shalat magrib di mekah. Dan akan kembali setelah shalat selesai.
”tahukah kau kawan, suhu itu sering bolak-balik mekah hanya untuk shalat magrib disana”. Kata iwan dengan wajah berseri-seri penuh kebanggaan. Ia nampak sangat kegirangan menceritakannya.
”dan pasti ilmu itu tak lama lagi akan turun kepadaku. Tahukah kau kawan kenapa?. Karna aku adalah murid kesayangannya”. Lanjutnya lagi. Aku semakin jengkel melihat wajahnya. Ia nampak semakin kehilangan akal sehatnya. Maka dengan sangat kesal menahan jengkel. aku membantahnya.
”iwan sahabatku, mari kujelaskan sedikit kepadamu agar otakmu tidak menjadi gila, sebenarnya itu hanya bualannya suhu itu, karena mana mungkin waktu magrib di indonesia sama dengan waktu magrib di mekah. Jika di sini jam enam sore berarti dimekah kurang lebih jam dua belas malam”. Jelasku menahan emosi.
Iwan merasa tersinggung dengan penjelasanku itu, ia tak tega membiarkan sang suhu itu dikatakan pembual maka meledaklah amarahnya.
”percuma aku bicara dengan orang sepertimu, kau tidak mengerti kalau ilmu gaib itu memang tak terbatas dengan waktu”. Katanya dengan nada marah. Nafasnya cepat dadanya turun naik. Lalu ia pergi meninggalkanku begitu saja.
Aku tak menyangka iwan akan marah seperti itu, tapi aku memang harus menyelamatkannya, tak mungkin aku membiarkan sahabatku itu terjerumus. Maka aku merundingkan masaalah ini dengan suanda. Namun suanda kelihatannya tak lama lagi akan seperti iwan, ia diam-diam mempercayai suhu itu. Tak ada pilihan lain aku harus menghentikan sendiri kegiatan itu. Tapi aku belum tahu bagaimana caranya.
Aku mendatangi pak ustad setelah shalat subuh. Ia terkejut melihat aku datang sepagi itu. Aku menjelaskan maksudku ingin menghentikan penipuan suhu itu. Mendengar itu pak ustad sangat senang, bahkan ia akan mendukungku.
”pak ustad, yang saya khawatirkan jangan-jangan suhu itu memang berilmu, dan ketika saya melawannya ia akan menyerang saya dengan ilmu sesatnya itu”. Mendengarku pak ustad tersenyum.
”meskipun suhu itu berilmu, pastilah ilmu itu yang datangnya dari iblis, maka janganlah kau meragukan kekuasaan allah, lawanlah aku akan mendukungmu”. Kata-kata pak ustad semakin menguatkan hatiku. Aku semakin bulat dengan keputusanku. Aku harus menghentikan perguruan sesat itu.


dedi padiku | foto | video | blog mengejar mimpi | blog facebook | profil facebook | facegor.
Read more
 
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon More
powered by Blogger Dedi Padiku